Majalah <strong> Warta NTT </strong>

Majalah Warta NTT

Radio <strong> Swara NTT </strong>

Radio Swara NTT

Fokus Kerja <strong> 2019-2020 </strong>

Fokus Kerja 2019-2020

Juru bicara gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 di Provinsi NTT yang juga Karo Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si menyampaikan keterangan kepada pers di Kupang, Minggu malam (12/04/2020).

Pesan Kemanusiaan Covid-19 di Provinsi NTT: Solider dengan yang Terpapar

Kepada seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Josef A Nae Soi (JNS), bersama seluruh staf  mengucapkan Selamat Pesta Paskah 2020. Kebangkitan Kristus Membawa Harapan Baru.

Pesan terakhir, “Kebangkitan Kristus Membawa Harapan Baru” itulah sebenarnya yang menjadi inti pesan Paskah tahun 2020   ini.

Ketika Paskah tahun ini dirayakan di tengah virus corona yang menjadi begitu pandemik, pesan ini dengan segera menjadi pesan universal. Ya, pesan untuk semua umat manusia di muka bumi. Nada dasarnya: harapan di tengah keprihatinan.

Kita musti mengetahui dahsyatnya virus corona ini hingga membuat semua umat manusia prihatin. Sampai dengan Senin  (13/4/2020) siang, menurut data yang dirilis worldometers.info, di seluruh dunia sudah terdapat 1.853.155kasus. Jumlah pasien positif corona sebanyak 1.315.283 orang. Jumlah korban yang meninggal dunia sebanyak 114.247 orang. Sedangkan yang berhasil sembuh  sebanyak  423.625 orang.

Di Indonesia ada 4.241 kasus, dengan jumlah pasien positif mencapai 3.509 orang. Korban yang meninggal duna karena corona mencapai 373 orang.

Di NTT, hingga Minggu (12/4/2020), ada lima orang yang positif berdasarkan rapid test, 1 orang positif dari hasil pemeriksaan sampel swab di laboratorium, jumlah  Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 813 orang.

Itu data korban manusia. Tetapi virus corona juga menghantam semua sektor. Tak ayal, banyak pemimpin dunia cepat bereaksi dan beraksi menyelamatkan negara dan warganya. Banyak negara melakukan lock down (menutup) negaranya dari dunia luar.

Ekonomi dunia diperkirakan mengalami kerugian 2,7 triliun dolar. Dengan kurs Rp 15.000 per dolar, maka kerugiannay sekitar 40.500 triliun rupiah. Bayangkan, berapa tahun APBN Indonesia dengan angka ini ?

Pariwisata dunia anjlok. Banyak rute penerbangan ditutup. Banyak pekerja hotel dan restoran dirumahkah. Dengan sendirinya mereka kehilangan pendapatan.

Di dunia pendidikan, anak-anak sekolah libur panjang. Sekolah ditutup rapat. Corona mengunci semua manusia di rumah.Tinggal dan bertahan di rumah (stay home). Bahkan juga kerja dari rumah (work from home).

Gambaran-gambaran yang memperlihatkan dampak virus corona ini membuat umat manusia, siapa pun dia, trenyuh. Menarik nafas panjang.  Dengan angka kematian sebanyak 114.247 orang, virus corona memang menjadi bencana dunia.

Tetapi kita tidak boleh kalah dengan virus corona. Nyawa boleh melayang, tetapi harapan tidak boleh hilang. Itulah sebabnya Paskah 2020 ini membawa pesan universal di atas, “Kebangkitan Kristus Membawa Harapan Baru.”

Harapan baru ini sangat penting untuk semua orang. Penting karena harapan itu menjadi nafas, roh, spirit untuk bangkit kembali di tengah kegelisahan, kecemasan, bahkan juga keputusasaan.

Di belahan dunia lain, ada menteri kabinet yang bunuh diri membayangkan serba kesulitan yang dihadapi. Ada juga negara yang dengan segera mengeksekusi warganya begitu diketahui positif terpapar corona.

Corona menghancurkan tatanan moral. Corona membunuh humanisme, rasa kemanusiaan banyak pemimpin dunia yang kemudian memutuskan kebijakan yang tidak disangka-sangka.

Tetapi “Kebangkitan Kristus Membawa Harapan Baru.” Semua boleh mati. Tetapi tidak boleh dengan harapan.  Dengan harapan itu, kita tidak boleh takut, tidak boleh juga cemas. Ketika kita takut, ketika kita cemas, ketika kita gelisah maka kondisi itu ikut menurunkan imunitas dalam diri.

Luar biasa ketika Gubernur VBL dan Wakil Gubernur JNS, berkali-kali menegaskan dan meminta warga NTT untuk tidak boleh panik. “Panik itu membuat imunitas kita turun. Kalian kalau tulis berita, jangan tulis yang membuat orang tambah panik, takut. Kalau panik, imunitasnya turun,” kata Gubernur VBL kepada para wartawan dalam jumpa pers dua pekan lalu.

Gubernur VBL betul. Virus corona boleh mengintai, bahkan sekarang sudah menyerang sejumlah orang di NTT. Kita menjadi begitu cemas dan gelisah.  Tetapi pesan Paskah memampukan kita untuk bangkit melawan virus mematikan ini.

Bagaimana mengejawantahkan kebangkitan itu ? Bangkit dengan cara apa ? Banyak modusnya. Bangkit dengan mengikuti semua protokol kesehatan yang sudah dikeluarkan pemerintah.  Kalau diminta lebih banyak tinggal di rumah, ikut saja. Stay home itu  bukan sekadar supaya kita tidak keluar rumah. Stay home itu juga bermakna stay healthy (tetap sehat).

Kalau diminta menghindari kerumunan massa, taati saja. Kita salut dan memberi apresiasi yang luar biasa kepada aparat kepolisian, TNI dan Satuan Polisi Pamong Praja yang tidak kenal lelah menelusuri jalan, lorong dan gang untuk memastikan tidak ada warga yang duduk bergerombol. Apalagi duduk bergerombol sambil menenggak minuman keras seperti di banyak tempat di NTT.

Kalau diminta pakai masker; ketika berada di area publik, cari atau buat masker dan pakai. Jangan busung dada dan gara-gara tidak mau pakai masker.

Bangkit juga dengan menyatakan solidaritas dan soliditas di antara  kita. Solidaritas dan soliditas itu menyata dari simpati, empati, kepedulian kita baik terhadap mereka yang berjuang di garda depan melawan virus, seperti para dokter, perawat, mereka yang bertugas di Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 maupun mereka yang menjadi orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), bahkan yang positif terpapar virus corona, mereka yang dirawat di rumah sakit.

Meminjam bahasa juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si, virus corona musti juga melahirkan virus kemanusiaan di antara kita.  Betul, virus corona harus juga menularkan virus simpati, empati  di antara kita.

“Saat ini kita sudah memiliki 1 pasien yang positif tertular virus corona. Untuk itu kami mengharapkan supaya kita semua memberi dia dukungan moril; memberi dia harapan dan tidak membuli dia di facebook, twiter atau instagram. Mari kita bersatu padu menolong saudara-saudara kita; bapa, mama kita yang kebetulan statusnya ODP, PDP ataupun yang tertular virus corona,” tandas Marius kepada pers di Ruang Biro Humas dan Protokol Setda NTT,  Minggu (12/4/2020) malam.

Marius benar. Sama saudara kita yang positif terpapar virus corona, mereka yang terkategori ODP atau PDP tentu tidak ingin dan tidak pernah berharap akan bernasib sial seperti ini. Maka ketika dia, mereka, lagi menjalani perawatan intensif di rumah sakit, atau sedang melakukan karantina, sikap kita yang benar bukan mengutuk, mencerca, atau menghakimi mereka. Sikap kita yang benar adalah memberi dukungan moril, memberi semangat, dan menyatakan simpati dan empati kepada dia, kepada mereka.

Di banyak tempat di NTT, ada di antara kita, bahkan keluarga sendiri menolak sama saudara kita yang datang dari luar NTT. Penolakan ini ekspresi kecemasan dan ketakutan yang berlebihan dan tidak berdasar. Maka ketika ada sosialisasi dari petugas kesehatan tentang virus ini dengan segala seluk beluknya, dengar dan paham baik-baik sehingga tidak termakan isu murahan yang lebih banyak menyesatkan.

Pesan simpati datang dari Gubernur VBL.  Gubernur  meminta jangan menolak saudara-saudara kita yang datang dari luar NTT. Jangan menolak ODP, PDP. Terkategori ODP atau PDP belum tentu positif. Positif atau tidak itu hanya dibuktikan melalui pemeriksaan sampel swab (cairan di tenggorokan) di laboratorium.

Karena itu jangan menghakimi tanpa alasan. Tunjukkan simpati, empati kita dengan meminta mereka yang datang dari luar NTT untuk melapor diri di aparat pemerintah, dengan penuh kesadaran memeriksa diri di puskesmas, rumah sakit. Dorong mereka secara persuasif untuk melakukan karantina mandiri. Tegur mereka ketika mereka lalai.

Hari ini sudah satu warga NTT yang positif corona. Harapan kita sama, semoga pasien dengan kode 01 ini segera sembuh dan sehat seperti sedia kala.  Semoga juga hanya dia seorang yang positif dari hasil pemeriksaan laboratorium. Kita lain, janganlah jadi korban corona. Maka, jaga diri. Stay healthy and stay home. (Tim Humas Pemprov NTT)

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Sumba Tengah, Sabtu (29/2/20).

Kunker Gubernur VBL ke Timor dan Sumba: Jangan Mau Jadi Orang Bodoh Lagi

GUBERNUR Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), secara meraton melakukan kunjungan kerja ke daratan Timor pekan pertama Februari 2020.   Sebagai seorang pemimpin yang paham psikologi massa,  VBL sadar hanya dengan kunjungan langsung ke masyarakat, dia bisa mendekatkan diri sekaligus  menyerap aspirasi langsung dari masyarakat.

Menyaksikan gaya, ritme  dan totalitas kunjungan kerja VBL kali ini, kita jadi sadar daerah dengan topografi seperti Nusa Tenggara Timur tidak cuma sekadar ada pemimpin. Lebih dari itu pemimpin yang dibutuhkan adalah sosok dengan kualifikasi ini : punya passion kuat, memeluk spirit merakyat,  punya energi lebih untuk kemudian bisa menghasilkan aura positif di tengah masyarakat.

Aura positif ini sungguh terasa ketika mengikuti kunjungan kerja (kunker) VBL selama sepekan di lima kabupaten di daratan Timor dan juga tiga kabupaten (minus Sumba Barat Daya)  di daratan Sumba. Kunker ke daratan Timor bermula di Kabupaten Malaka, Minggu (9/2/2020),  dan berakhir di Kabupaten Kupang, Jumat (14/2/2020). Sedangkan kunker ke daratan Sumba bermula di Sumba Timur, Kamis (27/2/2020), dan berakhir di Sumba Tengah, Sabtu (29/2/2020).

Sebenarnya kunker seorang kepala daerah ke tengah masyarakat merupakan hal  yang biasa dan rutin dilakukan. Tetapi ketika sang pemimpin itu mempunyai karakter kepemimpinan yang kuat,  punya tekad untuk membangun, niscaya kehadirannya sangat dirindu.

Kerinduan itu nyata ketika  Gubernur VBL dan rombongan menjejak Malaka, Minggu (9/2/2020) sore. Dari Kupang, VBL dan rombongan menggunakan kendaraan roda empat.  Melintasi jarak tempuh lebih dari 200 Km dengan waktu tempuh sekitar 8 delapan jam, tentu bukan perjalanan ringan buat pemimpin yang supersibuk. Tetapi bagi VBL kunker adalah harga yang harus dia bayar kepada rakyat sebagai pertanggungjawabannya sebagai seorang pemimpin.

Sekda Malaka, Donatus Bere, SH dan ratusan warga  yang sudah mengantre menyambut  Gubernur VBL dengan iringan drumband pelajar SMA Negeri Harekakae.  Sebelum masuk dan diterima Bupati Malaka, dr. Stef Bria Seran, di Rumah Jabatan Bupati Malaka, ada sapaan adat hase hawaka dari tua-tua adat Malaka. Hujan  yang mengguyur seakan membawa pesan kedatangan Gubernur VBL di bumi Malaka direstui alam dan leluhur Malaka.

Malam itu juga Gubernur VBL menggelar rapat dengan Bupati-Wakil Bupati Malaka, para camat, para lurah, kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, para pimpinan OPD Kabupaten Malaka. Di hadapan semua yang hadir itu, Gubernur VBL menunjukkan kepedulian, keberpihakan dan tekadnya ingin membawa NTT maju sesuai taglinenya ‘NTT Bangkit Menuju Sejahtera’.

NTT Bangkit Menuju Sejahtera, dalam pandangan Gubernur VBL, seyogyanya bisa dimulai  dari dan dengan apa yang ada pada masyarakat sendiri. Di banyak tempat dan pada berbagai kesempatan VBL selalu membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa NTT ini sungguh kaya.  Kekayaan alam NTT luar biasa. Destinasi pariwisata NTT tiada duanya. Karena itu NTT tidak boleh ketinggalan, masyarakat NTT tidak pantas hidup  miskin.

Di Malaka, Gubernur VBL membuka mata masyarakat dengan menggambarkan kandungan gizi dan vitamin pada kelor  si pohon ajaib yang lebih kaya dari susu. Karena itu, Gubernur VBL menginstruksikan agar setiap  rumah  menanam lima pohon kelor. “Kalau kita mengonsumsi kelor secara rutin, maka sesungguhnya kita tidak perlu lagi minum susu. Kelor di atas dari susu,” tandas Gubernur VBL.

Kabupaten Malaka, kata Gubernur VBL, merupakan salah satu tempat terbaik untuk budidaya tanaman kelor. “Malaka harus jadi model untuk tanam kelor,” tegas Gubernur disambut tepuk tangan para hadirin.

Gubernur VBL berharap agar institusi Gereja ikut mendukung dan menyukseskan program kelor. “Jadi kalau ada yang mau menikah, para perempuannya harus makan kelor. Kalau mereka tidak makan kelor, maka mereka tidak dapat restu dari pihak gereja,” kata Gubernur sembari menambahkan, “Kalau orang bodoh maka bikin susah banyak orang. Jangan pernah mau jadi orang bodoh.”

Kalau di Malaka Gubernur VBL memompa rakyat menanam kelor, maka di  Kabupaten Belu, Selasa (11/2/2020), politisi Nasdem itu mengajak masyarakat untuk berpikir tentang dunia pariwisata yang semakin naik daun.  Gubernur VBL menegaskan, siapa yang tidak sadar dan tidak peduli pariwisata, maka akan dilibas oleh pariwisata.

“Ini bukan gubernur punya mau. Tapi sekarang dunia sedang menuju pariwisata. Karena itu, bupati yang tidak peduli pariwisata maka dia akan merana seumur hidup,” tandas Gubernur VBL di depan peserta raker di Graha Kirani Atambua, Selasa (11/2/2020).

Kabupaten Belu, kata Gubernur VBL, memiliki Fulan Fehan sebagai destinasi unggulan yang hebat.  Gubernur VBL memprediksi jika keindahan alam Fulan Fehan dikelola secara baik, maka sekurang-kurangnya setahun ada pendapatan sebesar Rp 10 miliar.

Di hadapan semua yang hadir, Gubernur VBL juga mengajak untuk membangun cara berpikir.  “Mari kita bangun cara berpikir yang benar, kerja dengan benar dan sungguh-sungguh,” tandas Gubernur VBL.

Menurut Gubernur VBL, sejak dilantik 5 September 2018 bersama Wagub NTT, Josef A. Nae Soi, pihaknya baru belajar menjadi orang pemerintah. “Saya selama ini wirausaha dan DPR RI. Karena itu, saya belajar menjadi orang pemerintah. Memang di dalam birokrasi ini perlu ada gerakan dalam pelayanan publik,” tandas Gubernur VBL.

Sebagai birokrat, sebut gubernur, dirinya menginginkan agar mental dan cara kerja birokrasi harus birokrat enterpreneur/wirausaha. “Birokrat yang tahu berapa uang yang dikeluarkan dan berapa uang yang harus kembali,” jelas Gubernur VBL.

Bahkan ada gagasan yang unik dan menarik yang dilontarkan Gubernur VBL terkait kinerja para birokrat di NTT. “Nanti saya lapor Bapak Presiden. Kami di NTT buat Pergub kalau birokratnya kinerja baik, maka gaji dan insentifnya naik. Kalau mereka kinerjanya buruk maka gaji dan insentifnya hilang,” tegas Gubernur VBL, disambut sorai tepuk tangan dari para hadirin.

Gubernur VBL sangat sadar, ada kebijakan dan keputusannya tidak disukai masyarakat atau pihak tertentu. “Kalau tidak suka dengan saya tidak apa-apa yang penting kalian berubah. Karena itu, mari kita bekerja dengan sungguh-sungguh. Akal dan hati kita harus searah,” pinta mantan Ketua Fraksi Nasdem DPR RI ini.

Merespon satu pertanyaan yang diajukan dalam dialog itu, Gubernur VBL mengajak semua masyarakat untuk sama-sama sepikiran membangun NTT. “Kita harus bangkitkan orang bodoh untuk masuk surga. Ini tujuan kita bersama. Hanya orang pintar sajalah yang memiliki abstraksi imajinasi yang hidup. Orang pintar imajinasinya bagus. Orang pintar adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan baik. Mereka memiliki kompas untuk berjalan di jalan yang benar. Ini memang tidak gampang,” tandas Gubernur VBL.

Kelor Atasi Stunting

Tentang kelor, Gubernur VBL tidak pernah bosan mengkampanyekannya.  Begitu juga ketika mengunjungi dan berdialog dengan  Bupati Timor Tengah Utara (TTU), para camat, para lurah dan kades, para tenaga pendidikan dan tenaga kesehatan di Balai Biinmafo, Kefamenanu, Rabu (12/2/2020) kelor jadi primadona  kampanye.

“Saat kita mengalami kurang gizi segeralah konsumsi kelor. Karena kelor proteinnya lebih tinggi dari susu. Yang belum makan kelor, sebaiknya bertobat sudah,” tandas Gubernur VBL.

Konsumsi kelor, kata Gubernur VBL, sangat penting untuk mengatasi stunting yang masih tinggi di TTU. Sejauh ini angka stunting di TTU sebesar 42% dibandingkan dengan kabupaten lain di NTT.  “Saya sangat serius untuk urus stunting di TTU. Angka 42% ini harus diurus secara serius. Saya harap para tokoh agama juga dapat mengambil peran untuk urus stunting,” pinta Gubernur VBL.

Gubernur berharap paramedis atau tenaga kesehatan memperhatikan secara serius ibu-ibu yang hamil di luar pernikahan sah. “Anak yang dilahirkan dari pasangan yang tidak sah ini harus diurus. Pustu harus jadi one stop service, pihak Dukcapil (Kependudukan dan Catatan Sipil) juga harus ada di Pustu sehingga anak-anak ini bisa diurus administrasinya dan bisa mendapat intervensi dari pemerintah, sehingga angka stunting ini bisa turun,” jelas Gubernur VBL.

Jika urusan stunting ini tidak  diperhatikan secara serius, kata Gubernur VBL, maka impian besar NTT Bangkit NTT Sejahtera hanya semboyan yang enak didengar tapi tidak pernah diwujudnyatakan.  “Karena generasi kita adalah generasi stunting,” tegas Gubernur VBL.

Ketika kunker di  Sumba  Timur, Kamis (27/2/2020), Gubernur VBL juga kembali berbicara tentang stunting. “Kita harus optimis agar tahun 2020 bisa turun menjadi 18 persen. Masih sangat tinggi jika di angka 42 persen. Semoga kita bisa turunkan di angka 30 persen dan harus optimis di angka 18 persen di tahun 2020,” harapnya.

Mengapa Gubernur VBL begitu ngotot, baik untuk mengatasi  kemiskinan maupun menurunkan angka stunting? Pertanyaan ini dijawabnya sendiri ketika mengunjungi Kabupaten Kupang yang dipusatkan  di Gereja Pniel Lelogama, Amfoang Selatan, Jumat (14/2/2020).

“Manusia itu dalam dirinya ada dua kepribadian. Pertama, pribadi secara fisik, yaitu makan, minum, kerja dan segala macam aktivitas biasa. Kedua adalah identitas konsepsional. Kalau yang pertama itu tidak bisa ditahan, tidak bisa menolak kematian, pasti mati. Tidak ada orang yang tidak mati secara fisik,” jelas Gubernur VBL mengutip pendapat antropolog Ernest Becker Salon.

Menurut Gubernur VBL, kalau manusia fisik pasti mati dan tidak akan diingat. Tetapi bagaimana dengan manusia  yang konsepsional? “Itu manusia yang meninggalkan karyanya dan tidak pernah mati sepanjang masa, karena dia dikenang selalu. Contoh termasuk Ernest Becker ini. Kita omong dia sudah mati, hilang entah di mana. Hari ini di Lelogama ada seorang gubernur omong tentang nama dia. Itu artinya dia masih hidup. Itu maksudnya. Menulis buku, memberikan pikiran-pikiran, membuat terobosan-terobosan, pekerjaan-pekerjaan yang dikenal sepanjang masa dan orang akan tetap membicarakan namanya selama-lamanya. Jadi dia tidak akan pernah mati. Itulah yang dimaksudkan dengan manusia konsepsional,” jelas Gubernur VBL.

Karena itu Gubernur VBL mengajak semua warga, terutama para ASN di Kabupaten Kupang, untuk segera mengubah mindset. Para ASN perlu mengubah mindset-nya dalam bekerja. Mental kerja asal-asalan tidak bakal membawa perubahan apa-apa.

“Itu yang dimaksud dengan mindset. Kebangkitan yang saya maksudkan, bangkit menuju sejahtera nomor satu adalah pikiranmu, otakmu itu diubah. Dan ilmu itu ada, birokrat enterpreneur itu sudah diperkenalkan ratusan tahun lamanya, cuma mungkin belum sampai di Kupang. Artinya, menyangkut investasi pemerintah dalam pengetahuan kita investasi itu harus kita hitung pertumbuhannya berapa dan pengembaliannya berapa?” kata Gubernur VBL

Karena itu, dalam setiap kesempatan kunker, Gubernur VBL terus membangun semangat dan optimisme masyarakat bekerja benar dan sungguh-sungguh.  “Pasti ada yang tersinggung. Saya tidak repot karena saya sedang membangun generasi. Kau mau tersinggung itu kau punya urusan. Tapi saya tidak suka provinsi ini melahirkan generasi yang ke depan mereka tidak dianggap. Saya ingin melahirkan generasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan itu yang saya bilang manusia konsepsional. Orang akan mengenang sepanjang masa bahwa kita telah melahirkan mereka yang bisa berhadapan dengan siapapun. Mereka mampu mengisi pikiran-pikiran, bahkan memberikan pikiran-pikiran, gagasan-gagasan yang hebat-hebat,” tandasnya.

Dalam pandangan Gubernur VBL, kerja keras dan kerja fokus sangat membantu NTT keluar dari derita kemiskinan. Ketika mengunjungi Sumba Barat yang dipusatkan di Desa Malata, Kecamatan Tana Righu, Jumat  (28/2/2020), Gubernur VBL meminta semua pihak agar bekerja sistematis. Stunting dan kemiskinan, kata  Gubernur VBL, masih tinggi karena selama ini kita tidak bekerja sistematis. “Kita tidak bekerja sistematis. Kebanyakan bekerja tapi tidak tahu apa yang sebenarnya yang dikerjakan. Kita tidak fokus dan tidak terencana dalam bekerja,” tegasnya.

Tiru Bupati Sumteng

Dalam rangkaian kunkernya ke  daratan Timor dan daratan  Sumba, Gubernur VBL memberi apresiasi kepada Bupati Sumba Tengah, Drs. Paulus SK Limu. Ketika melakukan kunker di Sumba Tengah,  yang dipusatkan di Pantai Aili, Desa Konda Maloba, Kecamatan Katiku Tanah Selatan, Sabtu (29/2/2020), Gubernur VBL memuji  Bupati Sumba Tengah karena program-programnya bisa mengurangi stunting, kemiskinan serta kualitas pendidikan.

Apresiasi diberikan VBL usai mendengar pemaparan Bupati Paul Limu tentang tekadnya menurunkan stunting dan angka kemiskinan di Sumba Tengah melalui 11 program prioritas yang disebut Pro Oli Mila.  Dengan program tersebut,  Bupati Paul Limu sangat optimis angka kemiskinan serta stunting akan menurun di tahun 2020.

“Kami punya Progran Pro Oli Mila, yakni peduli terhadap orang miskin. Untuk menurunkan angka kemiskinan kami punya program rumah mandiri dengan anggaran Rp  50-65 juta per unit. Tahun 2019 kami sudah bangun 719 unit dan itu terbukti. Untuk stunting kami punya gerakan masyarakat hidup sehat (Germas Model),”  jelas Paul Limu.

Mendengar penjelasan Paul Limu, Gubernur VBL  mengatakan, “Baru kali ini saya tidak mendengar keluhan dari Bupati Sumba Tengah, padahal selama kunker semua bupati mengeluh tentang stunting, kemiskinan dan rawan pangan. Namun Sumba Tengah lebih mencari solusi daripada mengeluh. Apresiasi yang tinggi kepada Bupati Sumba Tengah dan jajarannya karena dengan nyata tanpa pengeluhan apa pun bekerja dengan tulus akan menjamin kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Gubernur VBL, apa yang dilakukan  Bupati Sumba Tengah harus dilakukan oleh semua bupati untuk mendukung agar NTT bisa sejahtera.  “Jika semua bupati seperti ini, maka saya tidak perlu melakukan kunjungan kerja lagi karena tidak ada lagi masalah. Dan ini harus menjadi contoh bagi yang lain. Saya percaya daerah ini akan sejahtera,” tegas Gubernur VBL. (*)

Labuan Bajo Menuju Destinasi Wisata Super  Premium dan Tuan Rumah KTT G-20

DALAM kurun waktu kurang lebih enam bulan, Presiden Republik Indonesia, Ir.  Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi NTT.

Kunjungan pertama dilaksanakan pada 10 sampai dengan 12 Juli 2019. Sedangkan kunjungan kedua dilakukan dari pada tanggal 19 sampai 21 Januari 2020.

Kedua kunjungan tersebut diberi label  kunjungan kerja khusus, yakni meninjau pembangunan pariwisata di Labuan Bajo pasca Labuan Bajo menjadi salah satu dari 10  Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016.

Dari 10 destinasi prioritas ini, Presiden Jokowi menetapkan 5  destinasi super prioritas yakni Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Manggarai Barat, Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Danau Toba di Sumatera Utara, dan Likupang di Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Pada beberapa kesempatan, Kepala Negara mengatakan,  pariwisata Indonesia harus mampu bertransformasi menjadi sektor utama penggerak perekonomian nasional.  Karena itu, Pemerintah berupaya serius untuk mengembangkan destinasi wisata baru selain Bali.

Presiden  berencana mengelompokan destinasi pariwisata baru ini dalam kategori  premium dan medium, serta khusus.

“Dua tahun ini kita fokus ke 5 dulu. Setelah 5 ini selesai, nanti fokus ke 5 berikutnya, yang mana 5 itu adalah Mandalika, Labuan Bajo, Borobudur, Danau Toba, Likupang  dengan segmentasi yang berbeda-beda. Sudah diatur semua, mana super premium, mana yang medium ke bawah , mana wisata ramai-ramai, dan mana wisata khusus,” kata Presiden Joko Widodo pada acara pembukaan Kompas 100 CEO Forum 2019 di Jakarta, (29/11/ 2019).

Presiden yang dalam dua kali kunjungan kerja tersebut didampingi oleh Ibu Iriana Jokowi menegaskan, secara umum kawasan Labuan Bajo akan diprioritaskan sebagai salah satu destinasi wisata super premium.

“Labuan Bajo menjadi super premium. Saya sampaikan hati-hati jangan sampai dicampur aduk dengan menengah ke bawah. Kalau perlu ada kuotanya, berapa banyak orang yang boleh masuk ke Labuan dalam setahun,” jelas Jokowi.

Selepas tiba di Bandara Udara Komodo pada 10 Juli 2019 dan diterima dengan Manuk Kapu dan dikalungki selendang  serta dipakaikan topi Songke, seturut adat penerimaan dan penghormatan tamu dalam  budaya Manggarai, Presiden langsung meninjau rencana pengembangan Bandara Komodo dengan melihat panel dan menyimak paparan tim teknis.

Dari Bandara Presiden dan rombongan mengunjungi Kawasan Puncak Waringin dan pengembangan Kawasan Terpadu Marina di Labuan Bajo.

Selanjutnya, pada hari kedua, Presiden Jokowi bersama Ibu Iriana dan rombongan menyambangi pulau Rinca untuk melihat pengembangan infrastruktur pariwisata  di salah satu pulau yang menjadi habitat Hewan Purba, Varanus Komodoensis tersebut.

Selepas makan siang, Presiden ditemani Ibu Iriana dan rombongan mengunjungi kawasan wisata  Batu Cermin.

Jalanan terjal dan bebatuan tak menyurutkan semangat keduanya untuk menelusuri Goa Batu Cermin yang terletak di Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.

Presiden dalam kunjungan tersebut mengungkapkan, untuk mendukung pengembangan kawasan Labuan Bajo, pemerintah sedang melakukan percepatan pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata, di antaranya pengembangan bandara Komodo.

“Maksimal tahun depan sudah rampung semua. Terminal airport, runway rampung,” kata Presiden.

Pengelolaan Bandara juga akan menjadi perhatian sendiri. Menurut Presiden, pemerintah ingin agar pengelola bandara di kawasawan-kawasan wisata memiliki jaringan pariwisata internasional.

“Pengelolaan juga akan dilelangkan. Terutama kita ingin agar yang mengelola airport ini yang memiliki jaringan pariwisata internasional sehingga yang datang ke sini turis-turis yang kita harapkan akan meningkatkan devisa,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Kepala Negara sempat menyusuri area pedestrian yang berjarak kurang lebih 100 meter dari kawasan Puncak Waringin. Penataan pedestrian yang dilalui Presiden tersebut juga akan menjadi bagian dari penataan kawasan pariwisata.

Selain itu, pemerintah juga akan membenahi dan mengembangkan sektor air minur dan sanitasi di kawasan Labuan Bajo, serta penataan pelabuhan dan pelebaran jalan menuju lokasi wisata untuk lebih mendukung arus wisatawan.

“Ini memang total penataannya,” tegas Presiden.

Penataan tersebut diharapkan diselesaikan sesegera mungkin. Setelahnya, Presiden berharap agar pemerintah setempat mulai membuat dan mengemas atraksi wisata baru yang dapat menarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Labuan Bajo.

“Kita ini baru mulai membenahi. Insyaallah tahun depan sudah selesai airportnya, runawaynya, dan penataan kawasan. Baru kita bicara bagaimana mengemas event-event seni dan budaya yang ada di sini. Kemudian juga promosinya seperti apa,” jelas Presiden.

Pada Kamis, 26 Desember 2019, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi yang didampingi Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengumumkan pemenang lelalng Proyek Pengembangan Bandara Komodo dengan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yakni Konsorsium Cardig Aero Service (CAS).

Konsorsium CAS beranggotakan PT. Cardig Aero Service (CAS),  Cahangi Airport International Pte Ltd. (CAI), dan Changi Airports International MENA Pte. Ltd.

Dalam kunjungan keduanya pada 19 Januari 2020, Presiden mengisinya dengan beberapa  agenda kegiatan. Di antaranya, Senin (20/1), Presiden melakukan peninjauan Lokasi Pembangunan Pelabuhan Multi Fungsi di Wae Kelambu.

Dilanjutkan dengan mengunjungi lokasi Puncak Waringin dan Peresmian Hotel Inaya Bay di Kompleks Pelabuhan Marina, dan Selasa (21/2) Presiden membagikan sertifikat kepada 2.500 masyarakat lokal di Halaman Kantor Bupati Manggarai Barat.

Di sela-sela, jadwal padat tersebut, Presiden memutuskan untuk melakukan Rapat Terbatas (Ratas) pada Senin pagi (20/1).

Rapat yang digelar di  Hotel Plataran Komodo itu dihadiri oleh Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, Menteri BUMN, Erick Thohir, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala BNPB, Doni Monardo, Kepala BNPP/Basarnas, Bagus Puruhito, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, dan Bupati Manggarai Barat. Gusti Ch. Dula.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menegaskan kembali keberadaan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata yang bersegmen super premium. Untuk mendukung hal ini, pengembangan dan penataan secara total Labuan Bajo akan dimulai pada awal tahun 2020.

“Kita memang ingin agar segmen pasar wisatawan yang hadir di sini adalah yang pengeluarannya lebih besar dari wisatawan kebanyakan dan oleh sebab itu kita perlu sekali melakukan integrasi baik yan gberkaitan dengan kerapihan, kebersihan, kenyamanan dan keamanan bagi para wisatawan,” ujar Presiden pada kesempatan itu.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menekankan  tujuh prioritas dalam pengembangan Labuan Bajo. Pertama, berkaitan dengan penataan kawasan. Menurut Jokowi, 5 zona yang harus ditata di Labuan Bajo yakni Bukit Pramuka, Kampung Air, pelabuhan peti kemas dan dermaga penumpang, kawasan Marina, serta di Zona di Kampung Ujung.

“Lima zona ini akan menjadi ruang publik yang tidak terputus yang menghadirkan sebuah landscaping yang indah yang menjadi generator penggerak pembangunan kawasan serta pusat aktivitas masyarakat di Labuan Bajo,” ungkap Jokowi.

Kedua, berkaitan dengan infrastruktur. Presiden ingin agar awal tahun ini landasan pacu dan terminal bandara segera dimulai. Ia pun berharap lalu lintas atau traffic di bandara tersebut bisa meningkat seiring dengan peningkatan jumlah wisatawan.

“Karena memang pengelolaannya saya lihat memiliki kemampuan, memiliki jaringan yang baik dalam rangka mendatangkan wisatawan ke Labuan Bajo,” imbuhnya.

Ketiga, berkaitan dengan penyiapan Sumberdaya Manusia (SdM), Presiden menghendaki agar masyarakat lokal turut dilibatkan dan menajdai bagian dari pembangunan yang dilakukan. Oleh karena itu, Presiden meminta agar SdM lokal segera ditingkatkan keahlian dan kompetensinya serta disesuaikan dengan kebutuhan industir pariwisata yang ingin dikerjakan.

Tak hanya itu, Presiden juga ingin agar usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) setempat tidak ditinggalkan. Ia  berharap nantinya ada sebuah crative hub yang akan menggarap produk-produk lokal tersebut, baik dari sisi pengemasan, desain, harga dan lain-lain.

“Kita harapkan nantinya tenun, kopi, kerajinan, makanan khas betul-betul bisa tumbuh dan seiring dengan itu juga atraksi budaya likal, kesenian daerah juga harus semakin  hidup dan menghidupkan area yang ada di Labuan Bajo,” jelasnya.

Sementara itu, kepada Gubernur NTT dan Bupati Manggarai Barat, Presiden menggarisbawahi soal masih banyaknya tanah sengketa di Labuan Bajo. Presiden meminta Gubernur dan Bupati untuk memperhatikan hal tersebut mengingat banyaknya investor yang ingin menanamkan modalnya di Labuan Bajo.

”Jadi betul-betul diselaraskan antara hukum adat yang ada dengan hukum positif yang kita miliki,” kata Presiden.

“Kemudian juga yang berkaitan dengan kapal besar yang masuk di Labuan Bajo, ini saya minta semuanya teregistrasi. Jangan sampai di sini hanya menikmati dan membuang sampahnya tapi masyarakat di sini tidak mendapatkan sebuah kemanfaatan dari datangnya kapal-kapal besar yang masuk,” lanjutnya.

Kelima, berkaitan dengan air baku. Presiden meminta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyiapkan tambahan air baku. Menurut Presiden keluhan tentang air baku itu datang dari para pemilik hotel dan masyarakat.

Keenam, berkaitan dengan keamanan para wisatawan. Presiden berharap jajarannya menyiapkan suatu organisasi yang terdiri dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menjamin keamanan wisatawan.

“Paling tidak kalau mereka melihat di sini ada SAR, ada BNPB, rasa aman dan nyaman akan muncul karena memang bisa kita lihat kesiapan dalam mengatasi hal-hal seperti ini,” tambahnya.

Terakhir berkaitan dengan promosi, Presiden menargetkan apabila semua sudah selesai, rapi, dan tertata pada akhir tahun 2020, maka promosi secara besar-besaran harus segera dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Termasuk digelarnya event-event internasional yang menarik para wisatawan agar datang ke Labuan Bajo,” tandasnya.

Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa hal terpenting  dari pengembangan Labuan Bajo adalah karena Pemerintah menyiapkan daerah tersebut untuk sejumlah agenda internasional. Rencananya pada tahun 2023, Indonesia akan menjadi Ketua ASEAN sekaligus Ketua G20.

“Tetapi yang paling penting juga bahwa kita ingin mempersiapkan Labuan Bajo ini untuk (tuan rumah) G20 dan ASEAN Summit di 2023. Sehingga dalam rangka persiapan ke sana pun ini mulai direncanakan, disiapkan mulai dari sekarang,” imbuhnya.

Menanngapi perhatian dan tekad besar Presiden ini, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef A. Nae Soi menyampaikan apresiasi yang tinggi. Dalam berbagai kesempatan Gubernur dan Wagub selalu menegaskan bahwa obyek-obeyek wisata di NTT  dilihat dari keaslian, keindahan dan keunikannya sangat unggul dibandingkan dengan daerah lainnya. Hanya saja menurut keduanya, kita masih kalah dalam menata, mengemas dan mempromosikannya agar memiliki nilai jual yang tinggi.

Pariwisata NTT harus didorong untuk menjadi Prime Mover Ekonomi NTT karena bisa menggerakan sektor-sektor lainnya dengan prinsip pengembangan lima A yakni Atraksi, Aksesibilitas, Akomodasi, Amenitas dan Awareness.

“Sekarang sudah saatnya kita bangkit mengelola pariwisata kita bukan dengan cara lama lagi, tetapi dengan cara baru yang lebih fokus mengembangkan Pariwisata sebagai Prime Mover.Pariwisata bisa memberikan lompatan eksponensial bagi pembangunan NTT.  Karena itu seluruh sektor harus didorong untuk mendukung sektor Pariwisata. SdM, Pertanian, peternakan, perikanan dan seluruh sektor lainnya harus mendukung sektor pariwisata sebagai prime mover. Atraksi yang indah dan unik harus bisa dijangkau dengan mudah baik lewat udara, darat dan laut. Juga didukung  akomodasi dan fasilitas pendukung lainnya di tempat wisata. Juga tak kalah pentingnya,  kita harus mempersiapkan masyarkat kita agar punya budaya bersih dan ramah,” jelas Gubernur NTT dalam berbagai kesempatan.

Rencana Presiden untuk mengembangkan destinasi wisata Labuan Bajo dengan branding utamanya Komodo menuju wisata super premium didukung penuh oleh Pemerintah Provinsi NTT. Dalam berbagai kesempatan,  Gubernur dan Wakil Gubernur NTT selalu menegaskan bahwa Taman Nasional Komodo itu sangat luar biasa dan eksotik serta satu-satunya di dunia karena meiliki komodo. Karena itu,  tidak semua orang bisa masuk ke tempat itu.

“Sesuatu yang unik ini tidak lagi punya harga, sehingga ke depan, saya akan bicara dengan pemerintah pusat untuk kita tutup. Kita akan buat syarat, kalau mau masuk ke situ minimal harus bayar 500 dolar Amerika,” kata Viktor Laiskodat saat berdialog dengan civitas akademika dan pimpinan perguruan tinggi se-daratan Timor di Hotel Aston, Rabu (21/11/2018).

“Komodo yang asli, begitu lihat mangsanya, dia langsung kejar, liar dan buas. Juga kita ingin kembalikan ekosistem dan rantai makanan di Pulau Komodo. Kemudian kita jual ke dunia dengan sistem kuota. Kalau mau lihat yang asli, bayarnya harus mahal,” tambah Wagub Josef Nae Soi bertemu dengan sejumlah anggota DPR RI dan pejabat dari Kementerian Pariwisata, di ruang Rapat Gubernur, Selasa (26/3/2019).

Presiden dalam kunjungannya ke Labuan Bajo  pada Juli 2019  pun berjanji akan membuat desain besar di mana area konservasi akan dipisahkan dengan area wisata, begitu juga dengan kuota turisnya.

“Kita ingin pulau Komodo betul-betul lebih ditujukan untuk konservasi sehingga turis di situ dibatasi, ada kuota, bayarnya mahal. Apabila tidak mampu bayar tidak usah ke sana,” jelas Jokowi dalam kesempatan tersebut.

Menindaklanjuti ini, Kementerian Koordinator Kemaritiman menggelar rapat terbatas yang dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Parisiwisata dan Gubernur NTT di Kantor Kemenko Kemaritimian, Senin (30/9/2019). Rapat itu memutuskan  membagi kawasan wisata di Taman Nasional Komodo menjadi kawasan wisata premium dan masal. Pulau Komodo sendiri  tidak jadi ditutup, namun dibuat khusus atau premium. Wisatawan yang berkunjung ke Pulau Komodo harus membeli kartu keanggotaan tahunan yang bersifat premium. Wisatawan yang tidak memiliki kartu premium diarahkan ke lokasi lain yang juga jadi habitat komodo.

Dalam rangka mendukung Pariwisata Premium dan tuan rumah KTT G20 dan ASEAN Summit Meeting 2023, Gubernur NTT meminta jajarannya untuk bekerja keras mempersiapkan segala sesuatunya secara serius.

“Saya minta semua Perangkat Daerah (PD) mampu menerjemahakn semuanya sesuai kapasitas dan tugasnya. Orang datang makan sayur, daging dan sebagainya, semuanya harus datang dari Nusa Tenggara Timur. Semua pimpinan PD yang punya urusan dengan ini, peternakan, pertanian, perindustrian dan perdagangan, semua harus disiapkan dengan baik. Pendidikan bagaiman siapkan hospitality, Pariwisata pun demikian. Begitu juga  bidang  lainnya. Pimpinan PD yang kerja-kerja berat di lapangan, kalau lebih banyak   berada di kantor, siap istirahat (mundur,red). Harus kerja keras ,” jelas Gubernur saat memimpin Apel  bersama seluruh ASN Lingkup Pemerintah Provinsi NTT di Halaman Gedung Sasando, Senin (3/2).

Gubernur juga menegaskan, keputusan Presiden untuk menjadikan Labuan Bajo sebagai tempat penyelenggaraan KTT G-20 dan ASEAN Summit 2023 merupakan kesempatan NTT untuk mengangkat harkat dan martabat kita. NTT  akan menerima kepala-kepala negara yang negaranya dianggap makmur. Pasti mereka akan datang dengan pengusaha-pengusahanya.

“Sedikit-dikitnya sekitar 15 ribu orang akan ada di Labuan Bajo. Dan kita akan membangun sebuah  kawasan baru yang punya tantangan luar biasa. Kita punya waktu dua tahun ke depan, kita harus mampu untuk mempersiapkannya. Kita masih punya waktu. Bagaimana pelayanan yang baik,kita siapkan dari sekarang. Ini momentum kita untuk membuktikan NTT punya kelas untuk menjadi tuan rumah agenda-agenda internasional, kita harus buktikan itu,” ujar Gubernur pada kesempatan tersebut.

Gubernur meminta agar segenap jajarannya bekerja secara serius karena Presiden mempercayakan NTT di saat kita  terbatas dalam banyak hal.

“Bayangkan  hari ini, hotel-hotel di sana (Labuan) hanya   bisa tampung  maksimal 5.000 orang,tapi ke depannya kita dipercayakan tampung 15 ribu orang. Berarti masih minus  10 ribu kamar. Kita juga harus bisa bangun dan tambah  4 hotel bintang 5 di Labuan. Kita harus kerja keras dan harus mampu kita selesaikan tantangan ini. Kita harus bangun kawasan  itu dengan hebat dan orang akan melihat bagaimana NTT mampu menjadi tuan rumah, dari yang dulunya terbatas dalam banyak hal,” jelas Gubernur NTT.  (Aven Reme)

Gubernur VBL dan Kekuatan Ras Melanesia dalam Membangun KTI

TATKALA mengunjungi Bumi Cendrawasih – Papua, awal Februari 2020; Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengajak dan mendorong ras Melanesia untuk menjalin dan meningkatkan perekonomian daerah.

“Ini kesempatan emas, karena saya bisa menghadiri acara syukuran dan doa bersama dengan keluarga besar Flores, Sumba, Timor dan Alor (Flobamora) di tanah Papua. Ini merupakan langkah awal bagi NTT untuk menjalin kerjasama yang baik dengan Papua. Saya akan terus dorong ras Melanesia bangun kerjsama daerah, apakah itu kesepakatan sosial budaya maupun ekonomi. Kerjasama sama ini, akan menjadi kekuatan kelompok bangsa Melanesia di Indonesia agar bahu membahu mewujudkan mimpi kita bahwa NTT, Papua, dan Maluku bukanlah daerah terpencil dan termiskin. Sebab kami mempunyai kekayaan luar biasa,” tandas Gubernur VBL, di GOR Waringin, Kotaraja, Kota Jayapura, Sabtu (01/02/2020).

  • Apa itu Melanesia ?

Melanesia merupakan salah satu domain penting dari dua kawasan berbeda yakni Mikronesia dan Polinesia di Lautan Pacific. Melanesia termasuk Solomon Islands, Vanuatu, New Caledonia, Tuvalu, Bismarck Archipelago, Admiralty Islands, Fiji, Papua, NTT dan NTB. Dari segi ras, Melanesian lebih luas dari ras Australoid, dan Melanesia berbicara  bahasa-bahasa Malayo-Polynesia (H. C. Brookfield and D. Hart, 1971). Sementara itu ras Melanesia juga dapat ditemukan pada kawasan New Caledonia.

Orang pertama menemukan domain Melanesia adalah Jules Dumont d’Urville pada tahun 1832 ketika ia membuat catatan ethnografis mengenai suku-suku dalam kaitan dengan proses pengelompokan pulau-pulau yang dapat dibedakan dari Polynesia dan Micronesia. Konsep awal Orang Eropa mengenai Melanesia muncul perlahan-lahan dari pemetaan Kawasan Pacific secara keseluruhan. Yang membuat para peneliti awal tertarik pada ras Melanesia adalah perbedaan fisik dari kelompok-kelompok di kepulauan Pacific. Teori Charles de Brosses pada tahun 1756 mengatakan bahwa ‘ras hitam tertua’ di kawasan Pacific ditalukkan oleh orang-orang yang kini disebut Polynesia, yang berbeda ras dari Melanesia, dimana mereka berkulit putih. Sekitar tahun 1825 Jean Baptiste Bory de Saint-Vincent mengembangkan usaha lebih lanjut untuk mendalami temuan di atas dengan berpedoman pada ke 15 model ras umum dari bangsa manusia di dunia. Temuannya hampir sama bahwa penduduk Melanesia (atau disebut juga Melanian) dapat dibedakan dari kelompok suku-suku Australia dan Neptunian (atau kini disebut sebagai Polynesia).

  • Ada 4 Klasifikasi Penduduk

Lama sebelum tahun 1832, ada sekian banyak penemu yang mengidentifikasi dan mengklasifikasi penduduk-penduduk Oceania ke dalam empat kelompok ras besar yakni: Malaysia, Polynesia, Micronesia, dan Melanesia. Ada sementara pakar ketika itu yang memasukan ras Australia ke dalam ras besar Melanesia dengan mengambil contoh Orang Aborigin Australia. Para peneliti hampir menyepakati bahwa titik tolak pembagian Melanesia bukan secara geografis, melainkan hanya pembedaan fisik atau kepentingan budaya tertentu, atau hanya sebatas pada ‘kharakter fisik’ yang kemudian dikenal dengan nama ‘ras’. Melanesia kemudian dikenal sebagai ‘rumah ras Oceania’.

Umumnya semua penduduk yang mendiami kawasan Oceania berkulit hitam (sawo-matang dan agak gelap) dengan rambut keriting dan berombak, hidung pesek, aktif berburu, rambut halus, mulut lebar, dan agak berbeda dengan penduduk Polynesia. Para peneliti Eropa menidentifikasi Melanesia tidak dalam perspektif budaya dan bukan ras atau kelompok geografis.

  • Ada Perbedaan Pendapat

Semenjak abad ke 19 ada perbedaan pendapat yang sangat signifikan mengenai peta Melanesia, dimana sementara pakar mengatakan bahwa PNG dan Papua Indonesia tidak termasuk kelompok Melanesia. Lalu pada abad ke-20 temuan abad sebelumnya dilawan dan bahkan memasukkan Kawasan Indonesia Timur (KIT), antara lain Kepulauan Nusa Tenggara minus Bali. Jika diteliti lebih lanjut, maka Indonesia secara keseluruhan termasuk dalam kelompok Melanesia. Walau tidak mudah untuk mengidentifikasi Melanesia, baik secara geografis, budaya, biologis dan dasar-dasar pembagian lainnya. Perlu studi yang cermat dan dalam waktu yang lama! Banyak negara Melanesia adalah bekas jajahan Perancis, terkecuali Papua dan Eastern Indonesia yang dijajah oleh Belanda.

Dalam catatan sejarah, penduduk Australia dan PNG sebagai bagian integral dari Melanesia sudah muncul semenjak kurun waktu 50.000 s/d 30.000-an tahun yang lalu. Kata sebuah sumber, penduduk Asli Australia dan PNG semirip leluhur Papua dan Timor pada saat sekarang. Penyebaran penduduk ketika itu menyusuri kawasan Asia Tenggara, dimana suku-suku asli mendiami pulau-pulau bagian timur antara lain Solomon Islands, termasuk juga Makira dan kemungkinan juga pulau-pulau kecil pada bagian timur.

Dalam paparan historiografi, para pakar sejarah menuturkan bahwa sekitar 3000 tahun yang lalu penduduk Australia bermigrasi ke utara PNG dan bagian tenggara kawasan yang sama. Pada abad ke 20, para pakar – terlebih dari The Australian National University Canberra – memusatkan perhatian pada Bahasa Austronesia. Hasil studi sementara adalah terdapat diversifikasi dalam bahasa, budaya di antara kelompok manusia, namun dengan tekanan pada keutuhan antara Melanesia, Polinesia dan Micronesia.

Hasil studi genetik pada abad ke-21 sangat menggemparkan dimana ditemukan (2008) kaitan erat antara Orang Taiwan Aborigin dengan leluhur Melanesia, Polinesia dan Mikronesia. Ada temuan migrasi para penduduk generasi awal ketika para pelayar (pencari ikan) mulai dari Polynesia, ke Asia timur dan bergerak menuju Melanesia hingga kawasan sekitar.

Tentang bahasa, ada temuan terkini bahwa bahasa-bahasa Melanesia merupakan anggota rumpun Bahasa Austronesia. Atau rumpun besar keluarga Papua. Hingga kini teridentifikasi lebih dari 1.319 bahasa di domain Melanesia. Dalam ruang lingkup bahasa Austronesia, Melanesia dikenal sebagai sebuah jejaring ras yang meliputi kawasan Pacific, Kepulauan Bismarck, sekali lagi Kepualau Solomon, lalu Kepulauan Santa Cruz, Vanuatu, rangkaian pulau New Hebrides, sampai New Caledonia. Bahkan termasuk juga Pulau-pulau sekitar Loyalty, Fiji, yan terdiri dari Viti Levu dan Vanua Levu, serta pulau-pulau kecil Lau.

Sesuai hasil penelitian terbaru, maka Melanesia meliputi, PNG, Papua, Maluku, Pulau Norfork di Australia, Raja Ampat, Rotuma (Viji), Pulau Schouten, Pulau-pulau Torres Strait,  Kepulauan Trobriand, Kepulauan Woodlark di PNG. Dalam perspektif ethnologi, maka ras Melanesia menyebar sampai kawasan barat Moluccas, termasuk juga Flores, Sumba, Timor, Halmahera, Alor, Adonara, Lembata, Rote, Sabu dan Pantar. Walau dalam pembicaraan sehari-hari ucapan Melanesia tidak terujar!

Dalam rumpun Bahasa Austronesia (yang lazim disebut sebagai Melayu-Polinesia, atau Melayu Indonesia), rumpun itu terdiri dari dua macam yang masih didiskusikan sampai saat ini:

Pertama, Western Austronesia terdiri dari 200-an bahasa lebih: NTT, NTB, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Raja Ampat, Kepala Burung, Taiwan, Formosa, Philipina dan Madagskar.

Kedua, Eastern Austronesia (disebut juga Oceania, terdiri dari 300-an bahasa) antara lain Melanesia (Papua, Kepulauan Salomon, Viji, Tongga, Vanuwatu, New Caledonia), Polinesia (Selandia Baru, Tahiti, dan Hawai), Micronesia (Kawasan Pacific lainnya).

  • Diperlukan Penelitian

Terhadap berbeda pendapat ini perlu penelitian pada empat hal berikut . Pertama, studi beraneka bahasa: linguistik dan ethno-linguistik. Kedua, kajian tradisi masyarakat lokal: oral tradition, folklore, lifestyle. Ketiga, perlu kajian mengenai kehidupan sosial masyarakat (kekerabatan, anthropologi politik ethno-politik). Keempat, harus ada review kehidupan agama dan seni (ethnografi dan anthropologi religi).

Sebetulnya lebih kecil dari Melanesia, maka harus ada strategi studi historiografi mengenai kawasan Pacific, yang merupakan bentangan satu periodisasi dalam perspektif ilmu antropologi mengenai munculnya Oceania. Dalam awal refleksi sejarah munculnya Melanesia diungkapkan, ‘nama Oceania’ lebih luas dibanding istilah Lautan Pacific, yang secara konvensional merangkumi lima bagian konstruksi kawasan, (1) Benua Australia, (2) Melanesia: Papua New Guinea dan Fiji, (3) Mikronesia: Mariana, Caroline, Marshall dan Kepulauan Gilbert, (4) Polynesia: Hawai, Tahiti, Samoa, Kepulauan Paskah, dan Selandia Baru, serta (5) Indonesia timur: NTT, Maluku, Papua-Indonesia dan Timor Leste (Encyclopaedia Britannica, Vol 13. 1980: 442). ‎

Kajian para pakar ilmu sosial di negara-negara Pacific semenjak antropolog Roger M. Keesing (ANU Canberra), Alan Howard (Honolulu), Ton Otto (Nijmegen) dkk melabuh sebuah pukat kajian kritis untuk merevisi berbagai temuan Pasific abad-abad silam. Sejarah Oceania ini dimulai beribu-ribu tahun yang lalu sebelum pengelompokan yang dilakukan Orang Perancis, bahkan jauh sebelum penemuan pulau ini pada abad ke-enam belas oleh Bangsa Eropa.

Pada tempat pertama diperlihatkan dinamika pemahaman sejarah yang terbanyak merujuk pada temuan abad ke 19 oleh para pelaut Inggeris, Belanda dan Perancis. Secara resmi pokok pembicaraan mengenai Melanesia sebagai istilah, baru muncul pada abad ke-19 yakni tahun 1832 bertepatan dengan telaahan nama yang diberi oleh pakar Perancis tadi tentang Melanesia, yang menurutnya berasal dari dua kata bahasa Yunani melas (hitam) dan nesos (pulau). Sebagai kawasan, Melanesia sudah ada semenjak ribuan tahun silam sebelum pakar Perancis memberi nama seperti tercantum di atas. Sudah sejak periode jaman es akhir (sekitar 20.000 – 14.000 tahun yang lalu) terungkap sebuah kisah panjang dan berbelit mengenai leluhur Austro-Melanesia sebagai penduduk bumi belahan utara termasuk Asia Tenggara dan kawasan Pacific. Mochtar Lubis menggunakan istilah Paleo-Melanesoid dalam kaitannya dengan ras Mongoloid.

Keragaman Oceania tidak hanya menutupi persamaan dasar melainkan juga meninggalkan berbagai pertanyaan historis. Manfaat dari pembagian Oceania ke Melanesia, Mikronesia dan Polinesia telah mendorong pencarian asal-usul yang berbeda dari orang-orang yang berada dalam wilayah tersebut. Mereka telah terbagi menjadi beberapa ras, antara lain, Negrito, Mongoloid dan Kaukasoid. Mereka terbawa oleh arus migrasi yang berbeda diluar wilayah Asia Tenggara; dan orang-orang Polinesia, aslinya merupakan orang Amerika Selatan yang ditolak dengan bukti yang berkaitan dengan bahasa dan juga tumbuh-tumbuhan. Teori awal menyangkut arus migrasi dari Malaysia ini sangat diragukan secara arkeologis. Teori ini mengatakan bahwa tiga bagian tersebut terdapat di Oceania dan bahwa tidak ada bukti mengenai asal-usul yang berbeda di luar kawasan Oceania. Nugini telah dihuni sejak 20.000 tahun yang lalu oleh orang-orang Asia Tenggara. Akan tetapi, penduduk yang menghuni di sekitar Oceania berusia tidak lebih dari 2 milenium sebelum masehi dan  hunian ini diperluas hingga era Masehi. Bukti dari segi bahasa sangat mendukung hal ini. Penduduk di Oceania berbicara menggunakan bahasa Austronesia, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina dan suku pribumi di Taiwan dan Madagaskar sedangkan bahasa non-Austronesia hanya dituturkan oleh beberapa orang pedalaman di beberapa pulau di Nugini dan tempat-tempat terdekat (Bellwood dkk. 1995, Fox 1997).

Secara azasi, Indonesia hendaknya mencari rumah tradisional budaya dengan menjalin relasi pada negara-negara Pacific, tidak saja Melanesia, melainkan juga Micronesia, Polynesis dan bahkan seluruh jajaran pulau di bentangan Pacific. Dalam rangka membangun sebuah prospectus ke depan, maka sangat penting dilakukan berbagai refleksi budaya, aneka penelitian dengan me-review temuan para pakar budaya sebelumnya. Suara kuat dapat direkam dan diperhatikan dari warga Melanesia di Pasific, yakni kerinduan kultural untuk saling mengenal. Sikap saling mengenal di sini tidak harus ditunjuk dengan kajian mengenai ‘seasal-usul’, melainkan sekawasan, senasib dan seperjuangan dalam perspektif ‘pragmatisme’ hidup bermasyarakat. Ada beberapa ucapan menarik dari rekan-rekan yang datang dari Pasific ke daratan Timor, ucapan spontan sangat menggugah: …..we feel like our home, …… this is our people…. We never think that we are the same…..this looks like our village…….we are just like in our home now….we are the same ancestors,…..this is our nature dan ungkapan-ungkapan familiar yang justru mengatakan bahwa kawasan ini dihuni oleh warga masyarakat yang tidak jauh berbeda dengan citra (budaya) mereka yang ada di Pasific.

  • Perbaiki Citra Internal

Langkah strategis yang perlu diperhatikan adalah memperbaiki citra internal kondisi kehidupan masyarakat antar daerah, antar pulau dan antar suku. Hal ini penting untuk membangun sebuah home principle yang kuat agar tercipta peluang untuk membangun pilgrim principle yang prospektif. Masyarakat hendaknya dihantar untuk berakar pada dan dalam kebudayaannya sendiri agar mampu menghargai budaya dan tradisi orang lain. Justru dalam dan dengan cara yang sama inilah terjalin peluang yang kreatif untuk saling terbuka dan belajar dari budaya lain. Sehingga tercipta kerangka dan konsep pembangunan yang utuh demi meraih kesejahteraan masyarakat yang selama ini diperjuangkan bersama. (Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)

Kiat Gubernur VBL Beri Layanan Terbaik : Disiplin Kerja dan Modernisasi Jadi Super Prioritas…!

SEJAK awal memimpin Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) bersama Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, MM langsung tancap gas. Ibarat jet tempur yang sedang manuver melibas musuh yang bertingkah aneh, Gubernur VBL pun mengarahkan perhatiannya ke semua masalah yang (sedang) melilit rakyat NTT. Tak terkecuali masalah kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT.

Itu sebabnya, usai dilantik menjadi Gubernur NTT pada Rabu, 5 September 2018 silam di Istana Negara, Jakarta oleh Presiden Joko Widodo; Gubernur VBL langsung fokus untuk mengatasi masalah disiplin kerja dan kinerja para abdi negara itu.  Dengan sedikit teguran lisan dan tatapan sorot mata yang tajam, sikap kerja sebagian besar ASN langsung berubah. Yang tadinya terlambat masuk kantor berbalik menjadi paling tepat waktu. Yang tadinya pulang paling cepat menjadi taat waktu out of office.

Namun hasil evaluasi daftar hadir selama tiga bulan, terungkap masih ada (juga) ASN yang sering terlambat masuk kantor, pulang kantor lebih awal, dan tidak masuk kantor tanpa alasan atau THTK alias tidak hadir tanpa kabar; bahkan hasil kerjanya juga minus alias ochong. Jumlahnya mencapai 142 orang. Mereka berasal dari berbagai instansi atau Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kontan saja mereka diberi sanksi berupa memakai rompi oranye saat mengikut apel yang dipimpin Gubernur VBL pada Senin, 7 Januari 2019 yang lalu.

Menurut Gubernur VBL, hukuman tersebut sebenarnya bertujuan untuk memberi efek jera agar semua ASN bekerja disiplin dan bekerja profesional; tentu dengan hasil kerja yang mampu menjawab kebutuhan publik di daerah ini.

“Kalau kita ingin menurunkan angka kemiskinan (di NTT),  tidak ada jalan lain, selain kerja disiplin. Bekerja cerdas dan out of the box. Kalau tidak, kita tidak bisa mencapai kesejahteraan,” kata GubernurVBL.

Malah Gubernur VBL sempat mengutip pikiran bernas Max Weber yang mengatakan bahwa  birokrasi adalah desain legal dan rasional. Birokrasi memiliki aturan jelas, tertulis, dan mampu dipahami dengan baik oleh ASN. Karena itu, profesionalitas merupakan kunci utama birokrasi yang handal dan mumpuni. “Kita ingin mendesain birokrasi dalam semangat yang sama dan meninggalkan ego sektoral,” tegasnya.

Selain kurang disiplin bekerja, kebanyakan ASN juga kurang teliti dalam bekerja. Akibatnya, masalah kecil bisa menjadi besar atau heboh. Misalnya problem macetnya pengeras suara pada acara Rapat Kerja (Raker) gubernur dengan para bupati/walikota, camat, kades dan lurah seluruh NTT di GOR Oepoi Kupang pada Kamis (24/10/2019) lalu, yang berujung Gubernur VBL menghukum Kepala Biro Pemerintahan Setda Provinsi NTT, Doris Rihi bersama sejumlah stafnya, melakukan squat jump sebanyak 10 kali.

Begitu juga masalah salah tanda tangan yang dilakukan oleh Kadiv Kredit Mikro Kecil dan Menengah serta Kadiv Kredit Komersil Bank NTT, Sony Pelokila dan Bili Djodjana yang berujung keduanya dihukum squat jump 10 kali pada Selasa 7 Januari 2020 yang lalu. Padahal dalam dunia kerja, ketelitian atau attention to details adalah suatu kemampuan yang sangat penting. Apa jadinya jika urusan kecil saja tidak teliti ? Bagaimana dengan masalah yang besar ? Karena itu, barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barang siapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar; (bandingkan Injil Lukas 16:10).

Gubernur VBL mengatakan, dirinya memberi hukuman pakai jaket orange atau squat jump bukan untuk mempermalukan seseorang tapi sedang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan rasa cinta terhadap pekerjaan kepada para pihak yang menjalani hukuman. “Orang yang bekerja secara sungguh dan serius akan mendapatkan (berkat) yang lebih banyak,” timpalnya.

Gubernur VBL mafhum betul bahwa sikap disiplin dan teliti merupakan sebuah keharusan bagi ASN atau pegawai pemerintah lainnya agar profesional dan memiliki komitmen yang kuat dalam bekerja. Selain disiplin dan teliti kerja, Gubernur VBL juga menginstruksikan kepada semua ASN dan pimpinan perangkat daerah (PD) untuk melakukan modernisasi dalam pelayanan. Baginya, pergeseran mentalitas kerja dan pelayanan harus disesuaikan dengan tuntutan masa kini. “Harus ada modernisasi di segala bidang pembangunan. Pembangunan ini ciri khas modernisasi. Jika modernisasi tidak ada, maka pembangunan juga tidak ada,” kata Gubernur VBL usai mengikuti kegiataan Hari Juang TNI AD di Alun-alun Rumah Jabatan Gubernur NTT, Kamis (19/12/19) lalu.

Gubernur VBL menginginkan agar semua PD melakukan pembaharuan atau modernisasi demi mencapai cita-cita masyarakat NTT yang sejahtera. “Perlu kita lakukan, apalagi Provinsi NTT berbatasan langsung dengan negara Timor Leste dan Australia, maka pembangunan harus digerakan secara cepat melalui modernisasi,” ujarnya.

VBL dan Sekda NTT foto bersama Kepala Biro dan staf Biro Humas dan Protokol Setda NTT usai peresmian Radio Swara NTT.

Salah satu PD yang telah melaksanakan “titah” atau instruksi Gubernur VBL terkait modernisasi pelayanan publik adalah Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT. Artinya, bisa dibilang unit yang kini dipimpin oleh Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si itu cepat tanggap, bereaksi cepat, dan kerja tuntas.

Terobosan demi terobosan terus dilakukan oleh doktor jebolon Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama sejumlah stafnya. Mulai dari menerbitkan Majalah Warta NTT sebagai jembatan informasi untuk NTT Bangkit NTT Sejahtera; menghadirkan Radio Streaming Swara NTT, menyediakan fasilitas Media Center Pemerintah Provinsi NTT; hingga meluncurkan Website Humas NTT yang terhubung dengan berbagai media sosial (medsos) dan dapat diakses dari belahan dunia mana saja. Tujuannya adalah memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi terkait kerja pemerintah, mulai dari apa yang telah dilakukan, sedang dijalani, maupun yang akan dikerjakan nanti, serta mempromosikan NTT kepada dunia luar, agar potensi menarik atau eksotis yang dimiliki Provinsi dan masyarakat NTT dapat dilirik oleh para investor maupun wisatawan manca negara dan wisatawan nusantara.

“Ini adalah karya nyata yang bisa kami berikan. Karena sebagai corong dan juru bicara pemerintah, kami harus lakukan ini,” ucap Jelamu saat melakukan uji coba siaran Radio Swara NTT di Gedung Sasando Kantor Gubernur NTT, Jumat (6/12/19).

Modernisasi yang dilakukan Jelamu diapresiasi oleh Gubernur VBL “Kita bersyukur punya Karo Humas yang luar biasa. Luar biasa (karena) telah menyiapkan dan menghadirkan radio ini. Dengan alat komunikasi ini, masyarakat akan tahu apa yang dikerjakan oleh pemerintah. Sehingga masyarakat memahami apa visi dan misi Pemerintah Provinsi NTT,” kata Gubernur VBL saat memimpin apel dan melaunching Radio Swara NTT, Selasa 17 Desember 2019.

Menurut Gubernur VBL, kerja pemerintah harus disampaikan kepada masyarakat, agar masyarakat dapat mengetahui dan memahami apa yang dikerjakan oleh gubernurnya, wakil gubernurnya, kepala dinasnya, kepala bironya dan lain sebagainya.

Sebab, mewujudkan cita-cita NTT Bangkit, NTT Sejahtera, tidak bisa hanya dengan kerja keras, tapi butuh tim propaganda untuk menyampaikan program kerja pemerintah dan hasil kerja pemerintah. Visi dan misi pemerintah harus diinformasikan dan disosialisasikan kepada masyarakat secara rutin. Sehingga masyarakat memahami betul dan mampu menyiapkan diri untuk bersama pemerintah mewujudkan NTT Bangkit, NTT Sejahtera.

“Proganda menggunakan seluruh alat yang ada hari ini, termasuk sosial media, harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Sehingga masyarakat mengetahui dengan baik apa yang dipikirkan dan apa yang dikerjakan oleh pemerintah,” pinta Gubernur VBL.

Dijelaskan, kehadiran media merupakan sebuah kebutuhan. Sebab pemerintahan dimana pun, mimpi apa pun, jika tidak ada media, tidak ada promosi, tidak ada yang menyampaikan informasi tentang kerja-kerja pemerintah, maka sama dengan tidak berguna. “Saya berterima kasih kepada Karo Humas yang mampu menerjemahkan kebutuhan pemerintah. Yang dulunya tidak ada menjadi ada, dan terus menerus publish seluruh pekerjaan dan mimpi-mimpi pemerintah, sehingga masyarakat ikut memiliki semangat dalam membangun NTT,” tandas Gubernur VBL.

Itulah sejumlah kiat Gubernur VBL dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat di Provinsi NTT. Ia mengharuskan sekaligus berharap kepada seluruh ASN di lingkup Pemerintah Provinsi NTT untuk memiliki disiplin kerja yang tinggi, profesional dalam bekerja (kerja yang terukur), dan memiliki modernisasi pelayanan publik yang bertanggungjawab sebagai sikap super prioritas dalam kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi guna mewujudkan NTT Bangkit NTT Sejahtera. Makmur dalam kesejahteraan dan sejahtera dalam kemakmuran. (Advetorial/Kerja Sama Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)

Gubernur Target 100 BUMDes Unggulan 2019

Gubernur NTT,  Viktor Bungtilu Laiskodat, SH, M.Si menargetkan pada tahun 2019 harus ada 100 Badan Usaha Milik Desa  (BUMDes) unggulan  dan berdaya saing di NTT. Kehadirannya diharapkan dapat menjadi motor penggerak  bagi BUMDes lainnya di NTT.

“Saya punya keyakinan dengan 100 BUMDes saja yang hebat di tahun 2019 di mana masing-masing  punya produk unggulan, tentu  akan menjadi fondasi yang kuat dalam mendorong pembangunan perekonomian desa di NTT. Orang-orang yang pimpin BUMDes haruslah mereka yang punya jiwa bisnis,” jelas Gubernur NTT dalam arahannya saat Rapat Koordinasi Program Inovasi Desa Tingkat Provinsi NTT Tahun 2019 di Hotel Sasando Kupang, Jumat (5/4).

Menurut Viktor Bungtilu Laiskodat, untuk mencapai target tersebut dibutuhkan kesatuan gerak dalam berpikir  dan bekerja dari Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa dan para pendamping. Dengan Dana Desa yang mencapai Rp. 3 triliun lebih dari Pemerintah Pusat, kita punya modal besar untuk mendorong NTT keluar dari urutan ketiga terbelakang dan termisikin.  Program dan kegiatan harus mampu dikerjakan dengan penuh tanggung jawab dengan karakter kepemimpinan yang berintegritas.

“Jangan banyak-banyak. Cukup dengan 100 BUMDes yang dipimpin oleh mereka yang punya karakter yang luar biasa dan terbiasa berpikir bisnis. Punya jiwa birokrat entrepreneur.  Jangan buat  BUMDes dengan struktur hebat,adakan rapat luar biasa  lalu tempatkan orang  seadanya. Kita ingin 100 ini tumbuh menjadi gerakan hebat dan yang lain pasti akan mengikuti. Jangan kita ingin punya 1000 BUMDes, tapi mati suri  dan tidak aktif semua,” jelas pria asal Semau tersebut.

Lebih lanjut mantan Ketua Fraksi Nasdem tersebut mengingatkan agar BUMDes tersebut mengembangkan satu produk unggulan lokal. Pemerintah daerah punya peran untuk melakukan proteksi terhadap potensi-potensi tersebut. Juga membuka akses pasar terhadap hasil olahan BUMDes tersebut.

“Umpamanya untuk tiga  Kabupaten di Manggarai Raya,  di sana ada produk unggulan Kopi. BUMDes bikin kopi bubuk. Demikian juga Ngada, buat kopi bubuk.  Kopi dari dua daerah ini terkenal dengan aromanya yang sudah mendunia. Jangan pikir pasar, kita punya Perusahaan Daerah Flobamor untuk menampung produk-produk tersebut. Kita punya kewajiban untuk mendorong inovasi masuk ke desa sesuai dengan  fungsi pemerintah sebagai fasilitator. Makan dan minum pada acara kantor dan hotel hendaknya dari hasil BUMDes. Kalau kita kerjakan semuanya ini dengan tanggung jawab moril yang sama, maka  pada tahun 2020 kita akan lahirkan 100 BUMDes  dengan produk-produk  luar biasa yang menggetarkan pentas nasional dan dorong petumbuhan BUMDes lainnya,” jelas  Viktor Laiskodat.

Di akhir sambutannya, Gubernur Viktor meminta para kepala desa dan para pendamping untuk bekerja semaksimal mungkin. Sebagai garda terdepan, keduanya harus berperan seperti malaikat karena orang-orang di desa pasti penuh dengan keterbatasan.

“Kelemahan sekecil apapun dalam membangun BUMDes khususnya dan desa pada umumnya harus segera diatasi. Jangan membiarkan ruang kesalahan menjadi semakin besar. Kita harus punya semangat kerja tidak hanya  pushtothe limit (bekerja sampai batas,red), tapi  terutama bekerja push over the limit (bekerja melampaui batas, red). Bekerja serius untuk membawa NTT ke luar dari garis kemiskinan,”pungkas  Viktor Laiskodat.

Sementara itu, Kepala Dinas (Kadis)  Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Sinun Petrus Manuk dalam laporannya mengungkapkan  sejak tahun 2015 sampai tahun 2019, total Dana Desa (DD) yang dialirkan ke NTT berjumlah sekitar Rp. 10 triliun lebih. Pada  tahun 2015, total DD yang digulirkan  hanya  Rp. 812 miliar lebih. Sementara untuk  tahun 2019 mencapai sekitar Rp. 3 triliun 20 miliar lebih untuk 3.026 desa di seluruh Nusa Tenggara Timur. Namun untuk tahun 2019, baru Kabupaten Manggarai  Barat yang DD nya sudah ditransfer ke rekening desa. Sementara untuk kabupaten lainnya,  pembentukan produk-produk hukum di desanya masih berproses dan belum selesai, sehingga dananya belum ditransfer dari pusat.

“Untuk pembentukan BUMDes belum mencapai 30 persen atau sekitar 987 BUMDes. Yang aktif hanya sekitar 781 unit.  Kami akan pantau lagi pada tahun ini terkait model usaha BUMDes yang aktif tersebut. Kami targetkan 1.000 yang aktif pada tahun ini. Kami juga meminta kerjasama dari Pemerintah Kabupaten untuk melakukan pendampingan terkait pembuatan produk hukum desa sehingga dana desa dapat segera ditransfer,” jelas mantan Kadis Kebudayaan tersebut.

Dijelaskan oleh Sinun Manuk, untuk tahun 2020 ada beberapa prioritas penggunaan DD  yang telah disepakati dalam Rapat Kerja (Raker) Kepala PMD Kabupaten/Kota di Rote Ndao Tahun ini. Di antaranya, untuk penanggulangan stunting, pelestarian tenun ikat, penyertaan DD dalam BUMDes untuk menghasilkan produk unggulan.

“Kita juga sepakat agar mulai tahun 2020, DD juga dipakai untuk membangun rumah layak huni sebanyak 5 unit  per desanya. Biaya per rumah, Rp. 50 juta.  Dengan demikian, dalam setahun mulai dari 2020 akan dibangun 15 ribu lebih unit rumah. Bahkan di Kabupaten Rote Ndao sudah mulai diaplikasikan mulai tahun 2019 ini untuk 10 unit rumah dengan dana per rumahnya Rp. 69 juta,” jelas Sinun Manuk.

Ada 289 peserta kegiatan Rakor Program Inovasi Desa tersebebut terdiri dari Kepala Dinas PMD Kabupaten/Kota se-NTT, utusan Bappeda/Bappelitbanda kabupaten/kota se-NTT, konsultan wilayah V Provinsi NTT, para camat, tim inovasi Kabupaten, tim pengelola inovasi  desa, pemangku kepentingan kapupaten, tenaga ahli kabupaten, pendamping desa dan pendamping lokal desa.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut Konsultan Nasional Program Inovasi Desa, Lendi, Kepala Biro Humas NTT, Dr. Ardu Marius Jelamu, pejabat struktural pada Dinas PMD PRovinsi NTT, insan pers dan undangan lainnya. (HMS)

Newsletter Subscribe