Gubernur NTT Perkenalkan Salam Wajib Nasional di Hadapan Fahri Hamzah

91 Views

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat di hadapan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah memperkenalkan kebiasaannya bersama Wakil Gubernur menyampaikan salam-salam nasional dari berbagai agama di berbagai forum dan kesempatan. Setiap salam tersebut wajib hukumnya untuk dijawab oleh forum.

“Pak Fahri,  sejak saya gubernur,  saya bersama wakil gubernur selalu menyampaikan salam-salam nasional dalam berbagai acara yang kami ikuti.  Di gereja, di mesjid semua salam tersebut harus dijawab, ” kata Viktor Laiskodat saat menerima Kunjungan Kerja Tim Pengawas DPR RI terkait Perlindungan Pekerja Migran Indonesia di Ruang Rapat Gubernur Kantor Gubernur, Gedung Sasando,  Kamis (23/1).

Tim yang dipimpin oleh Fahri Hamzah tersebut terdiri lima orang anggota DPR. Yakni Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (Gerindra), Julius Pote Leba (Golkar), Anton Surato (Demokrat), Ali Saputra Syah Pahn (PAN), dan Muhammad Iqbal (PPP).

Tujuan Kunker tersebut untuk memantau dan menggali informasi terhadap tiga isu utama dalam Undang-Undang No 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yakni prapenempatan,  penempatan dan pasca penempatan Pekerja Migran di NTT.

Gubernur Viktor menegaskan, kewajiban menyampaikan dan menjawab salam-salam itu bertujuan untuk memperlihatkan bahwa NTT merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.  NTT adalah Nusa Terindah Toleransi.

“Kalau saya di gereja,  saya ucapkan Assalamualaikum, tidak ada yang jawab saya ulang lagi. Sampai mereka jawab, baru saya lanjutkan pembicaraan,” jelas Viktor Laiskodat.

Di tempat yang sama, Wakil Gubernur NTT,  Drs.  Josef A.  Nae Soi mengapresiasi kedatangan Wakil Ketua DPR tersebut ke NTT. Baginya, Fahri merupakan sosok pribadi yang unik.

“Bagi masyarakat NTT,  Fahri ini adalah orang yang dibenci sekaligus dicintai. Ungkapan Latinnya, ‘odi et amo’. Waktu saya DPR dulu, dia  masih adek-adek tapi sekarang sudah jadi besar. Wajib hukumnya adek-adek bantu kaka di NTT, ” kata Josef dalam nada kelakar.

Sementara itu Fahri Hamzah saat ditanya terkait sikapnya atas kejadian penolakan masyarakat NTT terhadap kehadirannya beberapa waktu lalu, menegaskan hal tersebut sebagai suatu hal yang biasa dalam perjalanan kariernya. Kejadian tersebut justru mendorongnya untuk terus memperjuangkan kepentingan masyarakat Sunda Kecil.

“Penolakan seperti itu hal yang biasa. Saya ini kan figur yang kontroversial, banyak bicara. Tapi saya tidak boleh berhenti berbicara karena kalau berhenti,  orang Sunda Kecil,  NTB tanah kelahiran saya,  Sumbawa,  NTT nggak terdengar di pusat. Saya harus bicara karena itu tugas saya. Kasih saya pekerjaan supaya saya gonggong pemerintah pusat bantu pemerintah daerah, ” pungkas Fahri Hamzah. (VG)

No comments