NTT Punya Potensi Garam Luar Biasa

91 Views

Deputi Sumberdaya Alam dan  Jasa Kementerian Koordinator Kemaritiman, Agung Kuswandono, menyatakan Provinsi NTT memiliki potensi besar bagi untuk pengembangan produksi garam nasional. Dari segi luas wilayah dan air lautnya, NTT sangat bisa untuk menjadi Provinsi Garam.

“Selama ini, sentra-sentra produksi garam nasional rata-rata hanya ada di Pulau Jawa. Bicara garam, sejak zaman Belanda  identik dengan Madura. Kami sudah melakukan penelitian, daerah yang paling cocok untuk pengembangan ekstensifikasi industri garam adalah  Nusa Tenggara Timur. Sebagian ada di Sulawesi Selatan, tetapi  yang paling cocok saaat ini  adalah NTT,” ungkap Agung Kuswandono dalam Rapat Koordinasi Monitoring Progres Ekstensifikasi Lahan Garam di Provinsi NTT serta Rencana Pengembangan Pilot Project Garam Industri di Kabupaten Kupang, bertempat di Aula Fernandez Kantor Gubernur Sasando, Rabu (20/2).

Menurut Agung Kuswandono, Kemenko Maritim sangat fokus untuk membangun pabrik garam di NTT. Kebutuhan garam terus meningkat  dari tahun ke tahun seiring dengan perkembangan ekonomi yang semakin membaik. Tahun 2017, kebutuhan Garam Nasional, hanya 3,7 juta ton. Tahun  2018 bertambah menjadi 4,4 juta ton dengan rincian untuk keperluan garam industri sebanyak 3,7 juta ton dan garam konsumsi sebesar 700 ribu ton.  Kemampuan produksi nasional hanya mencapai 2,2 juta ton.  Bahan baku garam juga sangat dibutuhkan oleh kurang lebiih 400 industri di antaranya pembalut, pipa, farmasi, kosmetik, spa  dan masih banyak lainnya.

“Kalau hanya mengandalkan Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura, tidak akan cukup. Butuh ekstensifikasi, tidak cukup intensifikasi lahan. Usaha garam di NTT sudah dijalani sejak 26 tahun lalu, namun belum bisa berproduksi karena terkendala masalah lahan. Lahan NTT sangat cocok untuk produksi garam sepanjang tahun dengan teknologi sederhana. Panen bisa dilaksanakan setiap bulan. Jangan kuatir dengan pemasarannya,Kemenko Kemaritiman tidak akan lepas tangan,” jelas Agung.

Agung menjelaskan, sudah saatnya masyarakat NTT  menikmati kekayaan alam yang tidak terkelola selama ini. Usaha garam tidak hanya bisa dikelola oleh perusahaan  konsumsi dan industri tapi juga oleh masyarakat. Garam-garam untuk spa dengan  harga tinggi yakni Rp 280 ribu per  setengah kilogram dapat diproduksi dengan teknologi rumahan oleh   ibu-ibu rumah tangga di Cirebon dan Buleleng.

“Kita ingin mengembangkan ini di sini. Kalau lahan garamnya sudah jadi, masyarakat NTT dapat menikmati hidup layak. Masyarakat di NTT mungkin akan bolak-balik mendapat keuntungan besar bukan hanya jadi petani garam tapi juga ahli spa,” pungkas Agung.

Sementara itu, Eniya LIstiadi Dewi, Deputi Teknologi Informasi, Energi dan Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan, kondisi curah hujan di Kupang lebih sedikit dan waktu panasnya tinggi, bahkan yang tertinggi di Indonesia. Kondisi ini sangat potensial untuk pengembangan garam.

“Betapa bapak dan ibu masih dikarunia dengan air laut yang bersih di sini di kupang. Kalau dibandingkan dengan tempat lain, kualitas lahan di sini jauh lebih baik. Dihandingkan dengan di Pati Jawa Tengah dan Jeneponto, Sulawesi yang punya tingkat sedimentasi cukup tinggi, eksekusinya jelas lebih sulit dan kualitas garamnya lebih rendah.  Kupang itu lebih gampang, lebih potensial lho,”  jelas Eniya.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut, Staf Khusus Gubernur NTT, Prof Daniel Cameo,Plt. Bupati Kupang, Bupati Sabu Raijua, Bupati Timor Tengah Utara, utusan Bupati Nagekeo, pimpingan perangkat daerah lingkup pemerintah provinsi NTT, para investor/perusahaan yang bergerak dalam industri garam, unsur TNI/Polri , insan pers dan undangan lainnya. (ER)

No comments