Jadikan Teknologi Sebagai Wadah Untuk Memperkenalkan Budaya NTT

67 Views

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, SH, M.Si meminta generasi muda agar cerdas dalam memanfaatkan teknologi  komunikasi dan informasi. Menggunakan teknologi untuk memperkenalkan jati diri dan budaya NTT.

“Seluruh wisudawan/ti  akan hadapi dunia konkret. Suka atau tidak suka, perubahan akan datang kepada kita melalui teknologi informasi. Kita harus menggunakannya untuk membangun semua potensi yang kita miliki. Manfaatkan perkembangan teknologi sebagai wadah untuk perkenalkan jati diri dan budaya NTT,” kata Gubernur Laiskodat saat menyampaikan sambutan pada acara Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Wisuda Doktor, Magister, Profesi dan Sarjana Universitas Nusa Cendana (Undana) Periode Pertama Tahun 2019 di Aula Undana, hari ini Kamis (28/2).

Menurut Ketua Dewan Penyantun Undana tersebut, pesatnya perkembangan teknologi tak mesti membuat kita meninggalkan nilai-nilai budaya yang adalah kekuatan luar biasa. Kreasi dan produk budaya merupakan bukti  bahwa nenek moyang kita memiliki kekayaan intelektual yang luar biasa.

“Contoh sederhana adalah sarung tenun motif yang saya dan kita pakai hari ini. Ini adalah hasil karya imajinasi nenek moyang yang luar biasa. Mereka bukan sarjana, juga tidak banyak membaca buku. Teknologi informasi membantu kita untuk perkenalkan kepada dunia. Kita posting baju atau jaket dari tenun ikat ini sehingga dunia dapat  menonton dan melihat warisan hebat nenek moyang kita,” ajak mantan Ketua Fraksi Nasdem DPR RI tersebut.

Menurut alumnus Magister Studi Pembangunan UKAW Salatiga tersebut, teknologi selalu punya dua sisi. Sisi positif, kita manfaatkan untuk percepatan pembangunan dan kesejahteraan, namun  dampak negatifnya  harus kita antisipasi juga. Teknologi tidak boleh merusakan nilai-nilai luhur dan identitas yang telah kita bangun dari kekayaan budaya kita.

“Pengetahuan harus dibangun atas rasa tanggung jawab. Tidak cukup aspek kognitif tapi juga afektif dan keberanian mengambil resiko. Sehebat apapun orang  membangun pengetahuan, kalau tidak punya kepedulian terhadap sesama, lingkungan serta pencipta dan tidak berani ambil resiko, maka akan menimbulkan kehancuran yang hebat. Ketiga hal ini merupakan penyanggah pertumbuhan teknologi,” jelasnya.

Sementara itu, Rektor Undana Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si dalam pidatonya berjudul Digital Dictatorship atau Diktator Digital mengatakan, Revolusi Industri 4.0 dengan artificial intelligence atau kecerdasan buatan telah banyak mengambil alih sejumlah pekerjaan fisik. Membuat banyak orang kehilangan pekerjaan.

“Ini tantangan besar bagi para wisudawan. Tentu saja tidak cukup hanya dengan mengandalkan pengetahuan yang didapat selama berada di bangku kuliah, di tengah kepungan revolusi industri yang hebat ini. Saudara-saudari butuh additional skill  (skil tambahan) khususnya dalam bidang teknologi digital dengan segala tuntutannya. Inilah bentuk adaptasi terhadap disrupsi yang dihadapi kaum milenial saat ini,” tutup Fredrik Benu.

Jumlah wisudawan  ke-115 dalam sejarah berdirinya Undana adalah sebanyak  716 orang. Dalam pelaksanaannya, wisuda dilakukan dalam dua sesi atau dua hari,  masing-masing dengan 358 wisudawan. Mereka terdiri dari 2 orang Doktor, 17 wisudawan Magister, 4 orang profesi dokter dan 693 orang Sarjana.  (ER)

No comments