“Emas Putih” Terbaik di Indonesia Ada di NTT

243 Views

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat benar-benar membawa energi baru bagi NTT. Potensi-potensi unggulan NTT mulai digarap serius. Salah satu yang sedang dikelolah adalah “Emas Putih” atau garam.

Sebab, garam di NTT memiliki kualitas terbaik di Indonesia. Karena itu, ada mimpi besar agar NTT bisa menjadi produsen Emas Putih bagi Indonesia.

Demi mendukung dan menyukseskan pelaksanaan pembangunan dan pengembangan garam di Kabupaten Malaka, Provinsi NTT, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat meninjau proyek tambak garam dan memerintahkan investor untuk melanjutkan pembangunan yang sempat terhenti beberapa saat karena ada protes dari sebagian masyarakat.

Menurut Viktor, kualitas garam NTT merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia. Karena NTT punya pantai yang relatif bersih. Juga musim hujannya relatif sedikit dan musim panasnya panjang.

Sehingga garam yang kita hasilkan betul berkualitas dan punya nilai ekonomis tinggi.

“Kehadiran saya sebagai Gubernur merupakan momentum bagi kebangkitan NTT khususnya masyarakat di Kabupaten Malaka untuk meningkatkan kesejahteraannya melalui produksi garam. Garam adalah emas putih bagi NTT,” tandas Gubernur Viktor di sela-sela kunjungan di Desa Weoe, Malaka, Selasa (26/03).

Menurut Gubernur Laiskodat, selama ini Provinsi NTT kalau ke Jakarta selalu meminta bantuan dari pemerintah pusat.

“Di masa kepemimpinan saya, NTT harus memberi. NTT harus bisa menyumbang 1 juta metrik ton untuk memenuhi kebutuhan garam secara nasional. Karena selama ini secara nasional, kita masih mengimpor 3,7 juta metrik ton. Karena itu, produksi garam kita sudah memiliki pasar yang jelas,” tegas pria asal Pulau Semau tersebut.

Dalam menjalankan pembangunan, sebut mantan Ketua Fraksi Nasdem ini, pasti ada kelompok yang pro dan kontra.

“Terhadap suatu kebijakan, pasti tidak semuanya setuju. Kalau ada yang demo atau kontra itu wajar saja. Seorang pemimpin harus berpikir out of the box, untuk mencari jalan keluar atau solusinya,” kata Viktor Laiskodat.

Seorang pemimpin, lanjut Gubernur, tidak hanya bekerja atau berjalan sesuai aturan tetapi harus mampu berjalan jauh di depan aturan. Harus punya solusi alternatif terhadap berbagai kendala yang dihadapi.

Yang paling utama, kepentingan masyarakatlah yang didahulukan. Saya mengimpikan untuk mengembangkan potensi yang ada di NTT untuk kepentingan masyarakat NTT.

Mari kita kerja. Papua punya emas tetapi suatu saat akan habis. Tapi NTT punya laut yang tidak akan habis sampai akhir jaman.

Mari kita songsong Malaka baru tidak hanya dari revolusi pertanian tapi juga kita kembangkan emas putih yaitu garam.

Jebolan Magister Studi Pembangunan ini juga mengajak seluruh komponen masyarakat di Kabupaten Malaka untuk mendukung pemerintah daerah.

Bupati Malaka Stef Bria Seran pun mengajak pihak-pihak yang menentang pembangunan tambak garam di Malaka untuk duduk bersama pemerintah.

“Saya ajak kita semua untuk duduk bersama, jika ada pihak yang merasa dirugikan. Pemerintah tentu bekerja demi kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Direktur operasional PT Inti Daya Kencana (IDK), YohanisTarigan menyampaikan ucapan terima kasih kepada Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat yang telah datang dan memerintahkan pihaknya untuk melanjutkan pekerjaan tambak garam.

“Wilayah operasional yang dikembangkan sudah 28 hektar dari total 300 hektar. Dari total lahan yang ada, kami bisa menghasilkan 700 ribu metrik kubik garam industri. Juga kami melibatkan tenaga kerja lokal sehingga dapat meningkatkan tara hidup masyarakat di Kabupaten Malaka,” ucap Yohanis Tarigan.

Malaka Produsen Garam

DI Malaka, Gubernur Viktor Laiskodat juga bertatap muka dengan para kepala desa, tokoh pendidik, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat serta tokoh adat se Kabupaten Malaka.

Kegiatan yang berlangsung di rumah Kuning Haitimuk ini dihadiri juga oleh Bupati Malaka, dr. Stef Bria Seran,M.Ph, Sekretaris Daerah Malaka juga Unsur Forkopimda Kabupaten Malaka.

Dalam arahannya, Gubernur Laiskodat kembali mengangkat soal tambak garam di Malaka yang sering diistilahkan sebagai ‘emas putih’.

Berkaitan dengan diberhentikannya aktivitas di lokasi tambak garam Desa Weoe sejak 1 Maret 2019 lalu, gubernur tampak begitu bersemangat untuk mengulasnya di hadapan para tamu dan undangan.

“Saya sudah perintahkan Bupati Malaka dan juga pihak pengelola tambak garam untuk mulai besok kembali beroperasi di lokasi tersebut. Bagi saya, apapun kegiatan yang bertujuan baik demi kelangsungan hidup orang banyak harus tetap jalan, apalagi ini menyangkut harkat dan martabat masyarakat Malaka,” kata gubernur.

Ia menyayangkan aksi penolakan terhadap aktivitas tambak yang dikelola PT. Inti Daya Kencana.

Dia berharap bisa berdiskusi dengan para pihak yang tidak setuju (kontra).

“Mereka yang menghalangi aktivitas di lokasi ini belum mengerti manfaat sesungguhnya dari garam untuk Masyarakat Malaka dan bangsa ini. Kalau terjadi hal seperti ini, semestinya kita duduk bersama dan berdiskusi secara baik,” katanya.

Viktor berharap kedepannya, Malaka tidak saja dikenal karena hasil-hasil pertanian dan peternakannya. Tetapi juga dikenal karena mampu membantu negara, menyuplai kebutuhan garam nasional dari tambak-tambak tersebut.

Dari segi pendidikan, mantan anggota DPR-RI ini mengharapkan agar Kabupaten Malaka mampu mendesain secara baik dunia pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Harapannya agar Malaka juga bisa melahirkan generasi yang ahli pada bidangnya.

Ia meminta agar dalam dunia pendidikan, mulai dari SD sampai SMA/SMK terus dibicarakan tentang garam malaka.

“Kita mulai dengungkan ke telinga anak-anak kita tentang garam Malaka yang luar biasa ini. Ajarkan kepada mereka supaya mampu memahami secara baik manfaat garam selain sebagai bahan konsumsi sehari-hari. Anak-anak juga harus tahu bahwa garam Malaka mampu mengangkat harkat masyarakat kabupaten ini, sehingga mereka patut berbangga”, pungkas Viktor.

Gubernur juga mengajak seluruh masyarakat Malaka untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan, khususnya dari sampah plastik. Tujuannya agar kita mampu keluar dari stigma buruk sebagai provinsi terkotor di Indonesia.

Sementara itu, Bupati Malaka, dr. Stef Bria Seran,M.Ph, sangat berterima kasih kepada Gubernur NTT yang tiada hentinya melakukan kunjungan ke 21 kabupaten dan 1 kota di NTT untuk mensuport, sekaligus memantau secara langsung aktivitas masyarakat di tingkat bawah.

Potensi Garam Luar Biasa

Sementara itu, Deputi Sumberdaya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Kemaritiman, Agung Kuswandono, dalam Rapat Koordinasi Monitoring Progres Ekstensifikasi Lahan Garam di NTT serta Rencana Pengembangan Pilot Project Garam Industri di Kabupaten Kupang, di Aula Fernandez Kantor Gubernur Sasando, Rabu (20/2), menyatakan, Provinsi NTT memiliki potensi besar bagi untuk pengembangan produksi garam nasional.

Dari segi luas wilayah dan air lautnya, NTT sangat bisa untuk menjadi Provinsi Garam.

“Selama ini, sentra-sentra produksi garam nasional rata-rata hanya ada di Pulau Jawa. Bicara garam, sejak zaman Belanda identik dengan Madura. Kami sudah melakukan penelitian, daerah yang paling cocok untuk pengembangan ekstensifikasi industri garam adalah Nusa Tenggara Timur. Sebagian ada di Sulawesi Selatan, tetapi yang paling cocok saaat ini adalah NTT,” ungkap Agung Kuswandono dalam Rapat Koordinasi tersebut.

Menurut Agung, Kemenko Maritim sangat fokus untuk membangun pabrik garam di NTT. Kebutuhan garam terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan perkembangan ekonomi yang semakin membaik.

Tahun 2017, kebutuhan Garam Nasional, hanya 3,7 juta ton. Tahun 2018 bertambah menjadi 4,4 juta ton dengan rincian untuk keperluan garam industri sebanyak 3,7 juta ton dan garam konsumsi sebesar 700 ribu ton.

Kemampuan produksi nasional hanya mencapai 2,2 juta ton.

Bahan baku garam juga sangat dibutuhkan oleh kurang lebiih 400 industri di antaranya pembalut, pipa, farmasi, kosmetik, spa dan masih banyak lainnya.

“Kalau hanya mengandalkan Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura, tidak akan cukup. Butuh ekstensifikasi, tidak cukup intensifikasi lahan. Usaha garam di NTT sudah dijalani sejak 26 tahun lalu, namun belum bisa berproduksi karena terkendala masalah lahan. Lahan NTT sangat cocok untuk produksi garam sepanjang tahun dengan teknologi sederhana. Panen bisa dilaksanakan setiap bulan. Jangan kuatir dengan pemasarannya,Kemenko Kemaritiman tidak akan lepas tangan,” jelas Agung.

Agung menjelaskan, sudah saatnya masyarakat NTT menikmati kekayaan alam yang tidak terkelola selama ini. Usaha garam tidak hanya bisa dikelola oleh perusahaan konsumsi dan industri tapi juga oleh masyarakat. Garam-garam untuk spa dengan harga tinggi yakni Rp 280 ribu per setengah kilogram dapat diproduksi dengan teknologi rumahan oleh ibu-ibu rumah tangga di Cirebon dan Buleleng.

“Kita ingin mengembangkan ini di sini. Kalau lahan garamnya sudah jadi, masyarakat NTT dapat menikmati hidup layak. Masyarakat di NTT mungkin akan bolak-balik mendapat keuntungan besar bukan hanya jadi petani garam tapi juga ahli spa,” pungkas Agung.

Sementara itu, Eniya Listiadi Dewi, Deputi Teknologi Informasi, Energi dan Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan, kondisi curah hujan di Kupang lebih sedikit dan waktu panasnya tinggi, bahkan yang tertinggi di Indonesia.

Kondisi ini sangat potensial untuk pengembangan garam.

“Betapa bapak dan ibu masih dikarunia dengan air laut yang bersih di sini di kupang. Kalau dibandingkan dengan tempat lain, kualitas lahan di sini jauh lebih baik. Dibandingkan dengan di Pati Jawa Tengah dan Jeneponto, Sulawesi yang punya tingkat sedimentasi cukup tinggi, eksekusinya jelas lebih sulit dan kualitas garamnya lebih rendah. Kupang itu lebih gampang, lebih potensial lho,” jelas Eniya.

Terima Kasih PT Timor Livestock Lestari

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat mengunjungi Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Rabu (03/04/2019).

Kunjungan Gubernur Viktor ini untuk melihat dari dekat tambak garam yang dikelola oleh PT. Timor Livestock Lestari.

“Sebagai Gubernur, saya sangat berterimakasih kepada PT. Timor Livestock Lestari yang mau berinvestasi di lokasi ini, demi mengangkat harkat dan martabat masyarakat di Desa Nunkurus ini dalam pengembangan usaha tambak garam. Di saat Indonesia sementara masih mengimpor garam dari luar, NTT terus dan akan terus berusaha menyumbang minimal setengah dari kebutuhan garam nasional. Salah-satunya dari lokasi ini,” ungkap Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat.

Gubernur tampak begitu senang melihat aktivitas di lokasi kegiatan itu. Beliau mengharapkan agar NTT terus dianugerahi sinar matahari yang luar biasa, supaya bisa secepatnya melakukan panen.

“Kalau cuacanya mendukung saya rasa akhir bulan ini kita bisa panen,” kata Gubernur VBL yang langsung diamini oleh direktur PT. Timor Livestock Lestari, Stenly Jayapranata.

Kehadiran Gubernur NTT disambut antusias oleh masyarakat setempat sebagai pemilik lahan. Mereka juga adalah pekerja di lokasi tersebut.

Gubernur mengingatkan masyarakat agar jangan mengeluh kalau panas, karena dari panas itulah bisa dihasilkan kualitas garam yang luar biasa.

“Kalau sinar mataharinya cukup maka kualitas garam yang dihasilkan akan sangat bagus. Sebagai gubernur, saya akan sangat marah apabila ada masyarakat yang mengeluh karena panas. Panas itu berkat yang luar biasa,” sambung Viktor.

Direktur PT. Timor Livestock Lestari, Stenly Jayapranata, mengucapkan terimakasih kepada gubernur karena sudah datang melihat lokasi tambak garam miliknya. Dia sangat senang dengan kebijakan gubernur yakni kerja dulu baru ijinnya mengikuti.

“Terus terang, kalau seandainya Gubernur NTT bukan Bapak Viktor maka kami sudah mundur dengan terhormat dari dulu. Karena untuk mengurus surat-surat saja kami sudah kesulitan. Untunglah Pak Viktor datang dan tegaskan kepada kami untuk terus bekerja, ijinnya nanti menyusul,” kata Stenly.

Stenly juga menguraikan kondisi lapangan di lokasi itu.

“Total lahan yang akan digarap seluas 600 hektar. Sedangkan yang sudah digarap dan akan dipanen pada akhir bulan April ini seluas 20 hektar. Untuk ke depannya sekitar bulan Oktober 2019, kami akan berusaha bekerja keras agar dapat melakukan panen raya di lahan seluas 600 hektar yang ada. Kami berharap itu akan menjadi panen garam terbesar di NTT untuk tahun 2019,” papar Stenly.

Direktur muda ini juga menjelaskan tentang tenaga kerja dan sistem pembayaran terhadap para pekerja.

“Saat ini jumlah pekerja yang ada sekitar 100 orang. Tetapi, jumlah itu akan bertambah pada saat panen nanti. Target kami seluruh masyarakat yang ada di lokasi ini sebagai pemilik lahan akan kita libatkan, bahkan menurut saya itu masih kurang. Karenanya, untuk panen nanti kita juga akan menggunakan alat berat,” ujar Stenly.

Yermia Seik, salah-satu pekerja di lokasi tambak garam, mengaku, sangat senang dengan adanya usaha tambak garam ini.

Ia berharap agar ketika panen nanti kehidupan ekonomi mereka bisa semakin baik.

Tampak Hadir dalam kunjungan Gubernur kali ini adalah Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Ganef Wuriyanto,A.Pi, Staf Khusus Gubernur NTT, Prof. Daniel Kameo, Ketua Asosiasi Industri Garam Nasional NTT, Danial Cherlin juga Komisaris PT. Timor Livestock Lestari, Aristoteles Cherlin. (tim humas)

No comments