Gubernur Minta Bupati Walikota Sigap Antisipasi Bencana Alam

156 Views

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) meminta kepada para Bupati/Walikota se-NTT untuk sigap mengantisipasi potensi bencana alam di seluruh kabupaten/kota  se-NTT. Masyarakat harus terus diberikan informasi terkait perkembangan iklim dan cuaca sehingga mampu melakukan tindakan antisipatif.

“Kita ketahui cuaca ekstrem sedang melanda Indonesia termasuk NTT. Tentu kita perlu mengantisipasi dampak dari hal ini terutama potensi  bencana untuk melindungi rakyat kita di seluruh NTT. Pemerintah Provinsi NTT  telah mengelurkan surat keputusan terkait penanggulangan bencana dan memerintahkan para bupati/walikota se-NTT untuk selalu mengantisipasi dan melibatkan masyarakat dalam mencegah dampak akibat bencana alam,” jelas Gubernur Viktor melalui Kepala Biro Humas dan Protokol NTT, Marius Ardu Jelamu saat konferensi pers bersama Kepala Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kupang, Kepala Stasiun Metereologi Maritim Kupang dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT di Media Center Kantor Gubernur Sasando, Senin (6/1).

Menurut Marius Jelamu, informasi –informasi terkait bencana-bencana alam harus terus dipublikasi agar masyarakat dapat mengantisipasi bagaimana penangananya.  Bagaimana resolusinya dan langkah-langkah yang telah diambil oleh Pemerintah baik pusat, provinsi maupun kabupaten/kota.

“Dari pantauan dan laporan yang kita terima, ada beberapa kejadian di beberapa daerah di NTT terkait  cuaca ekstrem ini. Di beberapa wilayah Manggarai Barat, Manggarai Timur terjadi angin putting beliung dan tanah longsor. Begitu juga di Alor, sebagain wilayah Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara.Kita harapkan agar para camat dan kepala desa serta para ASN terus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait informasi potensi bencana ,”jelas Marius Jelamu.

Sementara  itu, Agung Sudiono Abadi, Kepala BMKG Kupang mengatakan sesuai Siaran Pers yang telah dikeluarkan oleh BMKG Kupang pada 4 Januari 2020, wilayah NTT berpotensi diguyur potensi hujan lebat dan angin kencang sampai dengan 7 Januari.

“Seuai dengan monitor yang terupdate pagi ini, terjadi pertumbuhan bibit siklon di Samudera Hindia dan Laut Arafura. Pergerakan angin ini luar biasa. Salah satu daerah yang terdampaknya adalah Manggarai dan sekitarnya. Sehingga terjadi angin puting beliung, awan gelap dan curah hujan lebat,” jelas Agung.

Agung menambahkan, BMKG selalu siap siaga dalam menginformasikan keadan cuaca di NTT. Kita selalu memberikan warnig  terkait keadaan iklim yang ekstrem tiga jam sebelumnya.

“Kami melayani informasi selama 24 jam  melalui nomor WA 081393204393. Sampai dengan tanggal 12 Januari, kondisi cuaca di NTT adalah  pagi sampai siang berawan, siang jelang sore hujan ringan sampai lebat disertai petir dengan sesekali angin kencang. Beberapa wilayah yang perlu diwaspadai tiga sampai tujuh hari ke depan adalah  seluruh wilayah pulau Timor. Juga pulau Rote perlu meningkatkan kewaspadaan,” ungkap Agung.

Lebih lanjut Agung meminta masyararakat untuk mewaspadai gejala petir. Karena petir sangat membahayakan jiwa manusia.

“Pada tanah-tanah  kosong,potensi  sambaran petirnya sangat kuat. Kita upayakan saat jalan bersama di tanah lapang, jarak antara satu orang dengan orang lainnya adalah satu sampai satu setengah meter. Saat terjadi petir, harus segera merunduk dan tiarap di tanah. Juga saat berlindung dekat pohon, harus menjaga jarak satu sampai satu setengah meter. Usahakan juga jangan tinggal dalam mobil yang dalam keadaan diam saat petir. Segala peralatan elektronik juga mesti dimatikan saat hujan disertai petir,” jelas Agung.

Sementara itu Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Kupang, Ota Thalo mengungkapkan dari 15 wilayah perairan di NTT , ada beberapa wilayah yang gelombangnya cukup ekstrem. Di antaranya  Selat Sape,Selat Sumba Bagian barat dan timur, Laut Sawu, Perairan Samudera Hindia Selatan Sumba dan Sabu, Perairan Samudera Hindia Selatan Kupang dan Rote, perairan Laut Timor selatan NTT.

“Untuk beberapa hari ke depan, kondisi wilayah perairan masih berpotensi gelombang tinggi. Ada beberapa wilayah perairan dengan tinggi gelombang 1,25 hingga 2,5 meter antara lain Selat Sape, Selat Ombai,Selat Alor, Selat Lamakera,Laut Sawu,Selat Sumba bagian Timur dan Perairan utara Flores.  Sementara perairan dengan tinggi gelombang 2,5 sampai 4 meter berpeluang terjadi di Selat Sape bagian Selatan, Selat Sumba bagian barat, Laut Sawu bagian Selatan dan perairan Kupang-Rote. Potensi gelombang  4 sampai dengan 6 meter  berpeluang terjadi di Samudera Hindia Selatan Sumba dan Sabu serta Samudera Hindia Selatan Kupang dan Rote,” jelas Ota.

Ota  berharap agar para nahkoda kapal dan nelayan dapat mewaspadai kemungkinan gelombang di perairan-perairan ini.   Juga dihimbau  kepada masyarakat pesisir untuk mengantisipasi terjadinya abrasi pantai.

Selanjutnya Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD NTT, Sentis Karolus mengungkapkan  pihak BPBD Provinsi telah meminta kepada BPBD Kabupaten/Kota untuk mengaktifkan posko penanggulangan bencana 24 jam dengan menambah kapasitas personil. Kita juga meminta lewat surat dari Gubernur agar para Bupati/Walikota bisa melakukan edukasi kepada masyarakat terkait informasi BMKG.

“Kita juga telah mengaktifkan rencana kontigensi bersama mitra terkait untuk mengantispasi bencana. Terkait laporan bencana, kita minta agar dilapor secara resmi melalui BPBD Kabupaten/Kota. Beberapa laporan bencana dari Alor dan Lembata telah kita dapatkan dan akan kita tindaklanjuti sesuai laporan dari BPBD Kabupaten setempat, ” pungkas Sentis. (Humas dan Protokol NTT)

No comments