Antisipasi Virus Corona, NTT Siagakan 9 Thermal Scanner

199 Views

Kementerian Kesehatan RI telah memerintahkan dan mengirim surat ke seluruh Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia untuk mengambil langkah-langkah kewaspadaan dini terhadap penyebaran penyakit Pneumonia akibat virus Corona. Menindaklanjuti ini, Pemerintah Provinsi NTT  telah berkoordinasi dengan  Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kupang  agar mengaktifikan sembilan (9) Thermal Scanner.

“Saya sudah sampaikan kepada   kepala KKP untuk segera difungsikan dan diaktifkan. Siapa saja yang masuk ataupun keluar dari Provinsi ini. Baik penumpang dari mancanegara maupun domestik agar terpantau. Ini untuk meminimalisir penyebaran virus corona. Sehingga  kalau sudah ada yang terpapar, dapat segera ditangani dengan cepat dan secara dini serta  tidak menyebar,” jelas Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Provinsi NTT, Drg. Dominikus Minggus Mere, saat memberikan keterangan  kepada wartawan di ruangan Biro Humas dan Protokol, Jumat sore (24/1).

Seperti diketahu organisasi kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO) dalam keterangannya  pada 23 Januari, menyatakan Novel Corona Virus (nCoV) merupakan kasus high risk di China,regional dan global. Total sudah 584 kasus dengan total 575 kasus dari 25 wilayah di China dengan 17 orang meninggal dunia di Provinsi Hubei China.

Dijelaskan Dominikus Mere, sebagai daerah yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia, NTT memiliki sembilan Thermal Scanner. Berfungsi memonitor setiap penumpang terutama dari daerah-daerah endemis. Alat-alat ini ditempatkan dua di Bandara El Tari, dua di Motain, dua di Motamasin,dua di Wini dan satu di Labuan Bajo.

“Karena Labuan Bajo telah menjadi kawasan pariwisata Premium dan NTT  telah masuk dalam destinasi pariwisata internasional, kita telah meminta KKP untuk menambah alat Thermal Scanner ini. Terutama untuk di Labuan Bajo menjadi prioritas,  jumlahnya agar ditambah secepatnya.   Juga untuk Sumba, Alor, Rote dan daerah destinasi pariwisata lainnya. Karena tahun ini, Kementerian Kesehatan akan mengadakan 135 alat ini untuk seluruh Indonesia. Kami akan segera koordinasikan agar kita bisa dapatkan alat ini dalam  jumlah secukupnya,” jelas Domi Mere.

Lebih lanjut, mantan Sekretaris Daerah Ende itu mengungkapkan, gejala orang yang terkena Virus Corona sama seperti flu biasa. Tetapi pada akhirnya, gejalanya akan menjurus seperti penyakit SARS dan MERS. Menyerang pernapasan bagian atas. Yang menjadi bahaya, kalau sudah menyerang pernapasan bagian bawah. Bisa jadi pneumonia dan penyakit lainnya.

“Yang kalau tidak ditanngani secara cepat, akan membahayakan keselamatan jiwa. Karena penangannya harus saksama, maka petugas kesehatan pun harus diberikan protap dan perlindungan diri. Termasuk juga kita  akan menyiapkan ruangan (isolasi) khusus di RSUD W.Z Johannes kalau ada penderita yang terpapar virus ini,” jelas Domi.

Terkait dengan penyakit Demam Berdarah (DBD),  Pemerintah Provinsi terus berupaya membangun koordinasi dengan pemerintah Kabupaten/Kota se-NTT. Kita telah mengirimkan surat dari Bapak Gubernur sejak September 2019 untuk seluruh Bupati/Walikota untuk mengantisipasi DBD sejak dini. Kita juga mengirimkan beberapa surat peringatan dan kewaspadaan dini kepada Dinas Kabupaten/Kota agar melakukan kegiatan kerja bakti pemberantasan sarang nyamuk dan kegiatan 3M (Menutup, Menguras dan Mengubur) objek-objek  yang berpotensi jadi sarang nyamuk sebelum musim penghujan.

“Untuk saat ini, kita sudah kirimkan tim ke Kabupaten Sikka yang mana Bupatinya telah menetapkan DBD sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Juga nanti ke Floeres Timur dan Lembata serta daerah lainnya.  Hal- hal yang menjadi kebutuhan kabupaten akan diback up oleh Provinsi. Karena kejadiannya sudah terjadi, butuh penanganan segera yang melibatkan semua pihak, tidak hanya pemerintah,” jelas Domi Mere.

Lebih lanjut, Domi menjelaskan, Dinas Kesehatan Provinsi telah meminta kepada  Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se-NTT untuk secepatnya menangani penderita DBD. Sampai dengan saat ini, sudah ada 9 Kabupaten yang melaporkan kejadian DBD.

“Yang paling banyak kasusnya adalah Kabupaten Sikka khususnya kecamatan Magepanda. Tapi juga ada laporan dari Manggarai Barat, Ende, Flores Timur, Alor, Kota Kupang. Sampai dengan saat ini untuk tahun 2020 ini, sudah ada 4 orang yang meninggal yakni 2 dari Sikka, 1 dari Alor dan 1 dari Lembata. Kita berupaya keras melakukan penanganan yang cepat dan kolaboratif  agar tidak menjalar dan mewabah seperti tahun lalu,” pungkas Domi.

Sementara itu Kepala Biro Humas dan Protokol NTT, Marius Ardu Jelamu yang mendampingi Kadis Kesehatan NTT, meminta masyarakat untuk tetap tenang menghadapi berbagai virus dan penyakit yang terjadi.

“Prinsipnya, Pemerintah Provinsi akan berupaya sekuat tenaga memberikan perlindungan kesehatan kepada seluruh masyarakat,” jelas Marius. (Aven Reme)

No comments