Wagub Minta Para  Relawan Guru  Perkenalkan Pariwisata NTT ke Amerika

207 Views

Wakil Gubernur NTT menerima para Relawan Guru Bahasa Inggris asal Amerika di Ruang Rapat Gubernur, Rabu (29/1).  Wagub meminta para relawan tersebut untuk memperkenalkan NTT  sebagai suatu daerah destinasi wisata unggulan di Indonesia. Para guru itu  difasilitasi oleh Peace Corps Indonesia, Organisasi independen yang didirikan Presiden Amerka, John F. Kennedy.

“Kalau di Amerika mungkin hanya kenal Bali, tapi East Nusa  Tenggara atau  NTT dikenal sebagai New Tourism Territory (Kawasan Pariwisata Baru, red). Tolong introduce (perkenalkan) NTT ini, kalau bersurat dengan teman-teman atau kerabat di Amerika. Ceritakan tentang keindahan NTT, supaya mereka tidak hanya tahu dan datang ke Bali, tapi juga ke NTT. Kita punya Komodo, hewan purba,satu-satunya di dunia. NTT juga punya destinasi budaya, alam dan bawah laut yang indah,”jelas Wagub pada kesempatan tersebut.

Wagub menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Amerika khususnya kepada Peace Corps yang telah memilih NTT untuk menjalankan program mulia tersebut. Kehadiran para relawan ini diyakini dapat meningkatkan kemampuan anak-anak NTT terutama dalam bahasa Inggris.

“Terima kasih atas kehadiran pemuda/i yang penuh semangat ini. Apresiasi untuk Peace Corps, lembaga non profit yang sangat luar biasa. Selamat datang di NTT, semoga selalu merasa at home selama berada di sini,” ungkap Wagub Nae Soi.

Lebih lanjut Wagub meminta agar program ini dapat diperluas dan menjangkau seluruh wilayah NTT. Sembari berharap bisa bertemu lagi denga para relawan agar bisa mendapatkan masukan tentang pola pembelajaran untuk peningkatan mutu pendidikan di NTT.

“Saya berharap agar Peace Corps dapat memperluas jangkauan program ini. Tidak hanya di Kota Kupang, Kabupaten Kupang atau TTS, tapi juga ke Kabupaten-kabupaten di Flores, Sumba , Rote dan Kabupaten lainnya di TT. Kita juga bisa bertemu lagi untuk berdiskusi untuk kemajuan pendidikan di NTT. Kalau bisa para relawan juga melatih para ASN kami karena setiap hari Rabu kami mewajibkan mereka untuk berbahasa Inggris,” pungkas pria asal Ngada tersebut.

Sementara itu, Program Manager Peace Corps Indonesia, Ananda Roman mengungkapkan, lembaga tersebut mulai menjalankan programnya di  Indonesia pada tahun 2010. Tepatnya di Provinsi Jawa Timur. Tujua Peace Corps adalah membantu masyarakat Indonesia dalam membentuk sumberdaya manusia yang terlatih dan terdidik. Juga sebagai ajang untuk meningkatkan kesalinganpahaman antara Amerika dan Indonesia melalui pertukaran budaya.

“Program Peace Corps masuk ke NTT pada tahun 2016. Awalnya berupa piloct project, dikhususkan untuk relawan senior dan durasi waktunya setahun saja. Jangkauannya pun hanya untuk Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Namun mulai tahun 2019, dijalankan full program selama dua tahun penuh. Relawan-relawan yang dikirim juga masih muda-muda dengan jangkauan wilayah Kota Kupang, Kabupaten Kupang dan TTS,” jelas Amanda.

Terkait permintaan Wagub untuk memperluas wilayah kerja Peace Corps di NTT, Amanda menyatakan, lembaganya membuka kesempatan untuk hal tersebut. Dia berharap pemerintah Provinsi dapat mengirimkan surat ke Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pendididikan dan Kementerian Agama.

“Kami mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) atau perjanjian kerjasama dengan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. Prioritas kita bukan sekolah-sekolah unggulan, tapi sekolah-sekolah yang terbuka dengan ide-ide baru dan punya kemauan untuk maju khusunya sekolah-sekolah terpencil,” pungkas Amanda.

Untuk diketahui program Peace Corps ditujukan untuk level Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Untuk tahun 2019, ada 8 orang relawan Guru Bahasa Inggris yang mengajar di SMKN 6 Kupang, SMKN 5 Kupang, SMKN 2 Soe, Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Bolok, SMAN 1 Taebenu Kabupaten Kupang, SMKN 2 Kupang, SMAN 7 Kupang, SMAN 8 Kupang.

Salah satu relawan Bahasa Inggris, Cahterine Halora yang mengajar di SMAN Taebenu merasa senang berada di NTT. Ia mengajak anak-anak NTT untuk berani berbicara bahasa Inggris.

“Kunci untuk  fasih berbahasa Inggris adalah berani untuk menggunakan dan mempraktekannya. Jangan takut berbuat kesalahan karena dengan mengetahui mana yang salah, kita dapat memperbaiki diri,” jelas Cahterine.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Benyamin Lola, Karo Humas dan Protokol NTT, Marius A. Jelamu, para relawan guru bahasa Inggris,  kepala sekolah dan wakil kepala sekolah dari SMA/SMK tempat para guru relawan berbakti dan undangan lainnya. (Aven Reme)

No comments