Harus ada Terobosan yang Radikal untuk Bangun NTT

301 Views

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menegaskan, dalam memimpin dan membangun Provinsi NTT harus ada terobosan yang radikal. Kebangkitan dan kesejahteraan masyarakat NTT harus dimulai dari mengubah mind set dan culture set masyarakat maupun Aparatur Sipil Negara (ASN).

Hal tersebut diungkapkan Gubernur VBL di depan peserta Musyawarah Pastoral (Muspas) IV Keuskupan Agung Kupang (KAK), di aula Susteran S.SpS Belo Selasa malam (25/02/2020).

Nampak hadir Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, tenaga ahli Gubernur NTT, Dr. Imanuel Blegur, Karo Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si, ratusan pastor paroki se KAK, para biarawati, Dewan Pastoral Paroki dan undangan lainnya.

Menurut Gubernur VBL, ketika dilantik Presiden Jokowi 5 September 2018 silam, angka kemiskinan di NTT 21,8 %, angka stunting sebesar 42 % dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah setelah Papua dan Papua Barat. “Nah, apakah NTT miskin?” ucap Gubernur balik bertanya.

Karena itu, sebut Gubernur VBL diperlukan terobosan yang radikal. “Gereja Katolik pun demikian. Tahun 1582 Paus Gregorius mengubah dan menggunakan kalender gregorian. Ini perubahan yang sangat radikal. Banyak yang protes. Tapi hari ini 98% dunia termasuk kita di NTT menggunakan kalender gregorian,” tandas Gubernur sembari mengatakan,” Sama kita di NTT. Kalau kita ingin membangun NTT dengan radikal; pasti ada pengorbanan. Ada harga yang harus dibayar.”

Ditandaskan, perlu ada motor penggerak dari pemimpin. “Ethos kerja harus berubah. Kita tidak bisa jalan santai. Sebuah perubahan pasti ada tekanan. Tinggal siapa yang mengikuti secara terpaksa atau secara sukarela. Jika tidak perubahan itu akan menggilas mereka yang tidak ingin berubah,” ucap mantan Ketua Fraksi Nasdem DPR RI.

  • Ubah Narasi

Pada bagian lain, Gubernur VBL berharap agar ada perubahan dalam merumuskan narasi-narasi pembangunan di NTT. “Saya sudah sampaikan ke Bappelitbangda NTT agar ubah narasi. Jangan lagi menggunakan narasi isu-isu strategis antara lain kemiskinan, stunting, kebodohan dan lain-lain. Ubah dengan isu-isu yang memalukan NTT yakni kemiskinan, kebodohan, stunting dan lain sebagainya,” jelas Gubernur, memberi contoh.

“Isu strategis itu seperti coklat kelor yang diminati, sophia minuman kebanggaan yang diminati, dan lain sebagainya. Karena itu, saya berharap agar Gereja Katolik, Bapak Uskup, para romo, para suster harus mengkampanyekan hal-hal yang baik ini. Sehingga kita bisa gapai NTT Bangkit NTT Sejahtera,” sebut Gubernur seraya berharap agar ada sinergitas dan kolaborasi yang efektif antara Pemprov NTT dengan lembaga gereja khususnya dalam mengurus kelor, jagung,sophia, peternakan dan lain-lain.

Di tempat terpisah, Ketua Panitia Muspas Romo Sipri Senda mengatakan, kegiatan Muspas ini dimaksudkan untuk membangun pemahaman pastoral bersama guna melihat kembali pengalaman pelayanan pastoral dan sejauh mana hasil Muspas tahun 2016 silam yang telah terlaksana di KAK. “Kegiatan ini kami gelar dari 23 hingga 27 Februari 2020 bertempat di Rumah Retret Susteran S.SpS Belo. Partisipasi dan keikutsertaan para tertahbis dan umat sangat baik,” ucap Romo Sipri yang juga pengajar Kitab Suci Sekolah Tinggi Filsafat Santu Mikhael Penfui Kupang.

Penulis: Valeri Guru/Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT

No comments