Gubernur Minta Masyarakat NTT Tetap Tenang Hadapi Corona

127 Views

Menghadapi ancaman virus  Corona  (Covid-19 yang telah ditetapkan World Health Organization (WHO) sebagai pandemi dan telah menyerang beberapa daerah di Indonesia, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu  Laiskodat (VBL) meminta masyarakat NTT tetap tenang. Tidak boleh kehilangan harapan  serta merasa takut berlebihan.

“Kita tidak minta corona masuk NTT, kita tetap stand by menghadapi virus ini. Saya sudah perintahkan Kepala Badan Pengelola Perbatasan untuk siap-siap menutup pintu perbatasan. Namun saya meminta masyarakat tetap tenang. Kita tidak boleh kehilangan harapan.Tidak boleh! Takut pasti, tidak ada yang tidak takut.  Tapi  kalau berlebihan dan panic attack, itu menyebabkan orang  tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Gubernur Laiskodat saat memberikan  sambutan pada acara Kuliah Umum dan Dialog dengan Civitas Akademi Politeknik Kesehatan (Poltekes) Negeri Kupang di Aula Poltekes, Sabtu (14/3).

Acara yang dihadiri oleh Direktur Poltekes Kemenkes Kupang, Kristina Harming Ragu, Para Wakil Direktur, Kepala Jurusan dan Program Studi, Dosen, mahasiswa Poltekes,Staf Khusus Gubernur Imanuel Blegur, Kepala Dinas Kesehatan NTT, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian NTT, Kepala Bappelitbangda NTT, Kepala Badan Negara Pengelola Perbatasan (BNPP)  NTT, Karo Humas dan Protokol NTT itu  mengambil tema “Situasi Kesehatan di Provinsi NTT”  dengan subtema Stunting, Pemanfaatan Kelor serta masalah Kesehatan lainnya.

Gubernur Viktor menegaskan bahwa seumur hidupnya, dirinya baru menyaksikan fenomena ketakutan luar biasa hebatnya yang melanda seluruh dunia akibat corona. Amerika dan sebagian Eropa sudah lockdown (mengunci akses ke luar dan masuk, red). WHO pun telah menyurati Presiden Jokowi untuk melakukan lockdown. Penyakit ini juga telah menghilangkan  budaya.

“Kita lihat negara-negara lain itu kehilangan (harapan) karena mereka takut berlebihan.Salaman pun tidak mau, hanya pakai sikut aja. Kita tidak boleh seperti itu. Secara moral, kita punya kekuatan karena kita sudah terbiasa susah dan menghadapi masalah, punya daya surviver yang tinggi. Kita  lihat bahwa ini bukan hanya masalah NTT tapi masalah seluruh dunia,” jelas Gubernur Viktor Laiskodat.

Lebih lanjut mantan Ketua Fraksi Nasdem DPR RI itu  mengajak masayarakat NTT untuk tetap optimis menghadapi hal ini. Gubernur berharap segenap civitas akademi Poltekes Kupang harus mampu mendorong dan membangun rasa percaya diri dan  harapan-harapan masyarakat. Sebagai orang yang bergelut dalam bidang kesehatan, jajaran poltekes harus bisa lebih meyakinkan masyarakat daripada Gubernur.

“Sebagai manusia beriman, saya melihat penyakit ini adalah cara dari Tuhan untuk menciptakan equilibrium  (keseimbangan)  dunia agar  berjalan dengan baik. Tolong jelaskan kepada siapapun  masyarakat NTT supaya jangan takut berlebihan. Kecuali corona menjadi satu-satunya penyebab kematian. Pasti selesai masalah ini, tidak mungkin tidak selesai. Pertanyaan kita, waktu masalah ini selesai, kita ada di level mana, apa masih dalam ketakutan atau pernah di ketakutan ataukah di level sedang siap untuk melompat saat orang lain masih berada dalam ketakutan,” ujar pria asal Semau tersebut.

Menyangkut langkah teknis lainnya, Gubernur menegaskan ada tiga Rumah Sakit yang disiapkan Pemerintah Provinsi  untuk mengantisipasi jika nantinya muncul  penderita corona di NTT yakni Rumah Sakit W.Z. Johannis Kupang, Komodo di Labuan Bajo dan T.C. Hillers di Maumere.

“Kalau ternyata suspectnya ada di NTT, kita akan berupaya secara profesional untuk menyembuhkannya,” pungkas Gubernur NTT itu.

Sementara itu terkait arahan Gubernur menutup pintu perbatasan, Kepala BNPP Provinsi NTT, Linus Lusi yang ditemui di tempat yang sama mengemukakan, untuk menindaklanjuti arahan Gubernur tersebut, pihaknya akan segera berkorespondensi dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Luar Negeri.

“Kita juga akan secepatnya  berkoodinasi dengan kabupaten-kabupaten di perbatasan dengan Timor Leste sehingga tidak terjadi bias informasi,” jelas  Linus Lusi.

Terkait DBD, Penting Untuk Jaga Kebersihan

Terkait dengan tingginya angka kematian akibat penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) khususnya di Sikka, Gubernur menegaskan pemerintah Provinsi telah mengirimkan tim dokter dipimpin oleh Kadis Kesehatan.

“Kemarin saya juga telah minta beberapa dokter dari Rumah Sakit W.Z. Johannis untuk membantu di sana. Kita juga mengirim bantuan obat-obatan ke sana. Dan menurut laporan Kadis Kesehatan NTT, sudah terjadi penurunan  di sana. Para dokter yang diperbantukan tetap stand by di sana sampai keadaannya sudah cenderung membaik, baru ditarik kembali, “ jelas Gubernur Viktor.

Untuk mencegah peningkatan kasus DBD, Gubernur meminta seluruh Bupati, Camat dan Kepala Desa/Lurah untuk menjaga kebersihan di lingkungannya.

“DBD yang tinggi disebakan karena lingkungan kotor. Karena itu penting untuk peduli  terhadap dan menjaga kebersihan lingkungan. Begitupun di sekolah-sekolah dan lemabga pendidikan, penting untuk menjaga kebersihan terutama kamar WC nya,” harap Gubernur Viktor.

Lebih lanjut, Gubernur Viktor juga meminta Poltekes agar mampu melakukan penelitan atau riset untuk menurunkan bahkan menghilangkan  penyakit DBD.

“Kita harapkan penelitian Poltekes ke depannya mampu menurunkan penyakit-penyakit tropis di NTT khususnya DBD. Saya bermimpi suatu saat ada penelitian yang buat  nyamuk DBD ini dikawini dengan cara bagaimana, sehingga tidak lagi berbahaya. Kalau sampai Poltekes Kupang buat penelitian yang mampu buat nyamuk ini netral, kita tentu sangat berbangga dan pemerintah provinsi siap menfasilitasi penelitian operasional seperti ini,” jelas Gubernur Viktor.

Sementara itu, Direktur Poltekes Kemenkes Kupang, Kristina Harming Ragu menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kehadiran Gubernur NTT kampus Poltekes.

“Lembaga ini sudah menjalin kerjasama dengan Pemerintah Provinsi NTT khususnya melalui Dinas Kesehatan dalam berbagai bidang seperti penurunan stunting, DBD, masalah Sanitasi Total Berbasis Masayarakat dan kajian masalah kesehatan lainnya. Ke depannya kami siap untuk memberikan dukungan yang lebih optimal untuk mewujudkan program pemerintah provinsi di bidang kesehatan,” jelas wanita asal Manggarai tersebut. (*)

No comments