Cegah Covid-19, Marius Minta Masyarakat Disiplin Jalankan Protokol Kesehatan

278 Views

Juru bicara percepatana penanganan Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 di Provinsi NTT yang juga Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si meminta kepada seluruh masyarakat di Provinsi NTT untuk patuh dan disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan sebagaimana yang disampaikan WHO dan otoritas pemerintah dalam mencegah penyebaran virus corona.

“Kita butuhkan kesadaran dari seluruh masyarakat NTT terhadap hal ini. Sekali lagi Bapak Gubernur dan Bapak Wagub mendorong kita semua untuk menjaga kesehatan kita. Tidak ada cara lain bagi 5,4 juta penduduk NTT untuk menjaga kesehatan dan keselamatannya selain disiplin ketaatan untuk mengikuti protokol-protokol kesehatan yang sudah ditetapkan,” tandas Marius kepada pers di Kupang, Minggu (26/04/2020) malam.

Dia menjelaskan, protokol kesehatan antara lain menghindari kerumunan sekaligus tidak menciptakan kerumunan; lebih banyak berada di dalam rumah. “Karena kita tidak pernah tahu ketika keluar dari pintu rumah dan orang lewat di depan rumah kita; kita tidak pernah tahu apakah dia ada virus atau tidak ? Demikian juga di jalan. Karena itu, Bapak Gubernur dan Bapak Wagub menekankan sekali lagi bagi 5,4 juta penduduk NTT mematuhi semua protokol kesehatan yakni : selalu memakai masker, mencuci tangan dengan detergen di air yang mengalir, menjaga kesehatan tubuh kita daya tahan tubuh kita dan sebagainya,” jelas mantan Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT.

Meski pasien 01 telah sembuh sebut Marius, masyarakat NTT jangan berpuas diri.

“Kita semua untuk tidak berpuas diri karena pasien 01 yang pernah terpapar virus dan kemarin dulu telah diperiksa swabnya dinyatakan negatif. Sekali lagi Bapak Gubernur dan Bapak Wagub tetap mengontrol semua tata kelola pelaksanaan penanganan percepatan Covid-19 di seluruh NTT. Kedua beliau mengimbau kita untuk mematuhi semua protokol kesehatan,” ujarnya.

  • Sampaikan Juga Soal Stok Pangan

Yang menarik doktor jebolan IPB Bogor ini juga menjelaskan, tentang ketersediaan atau stok pangan secara nasional yang tentu akan berdampak terhadap stok pangan di Provinsi NTT. Keterangan Menteri Pertanian terkait dengan kesiapan pangan kita terutama mulai bulan Februari sampai Mei dan lebih khusus lagi dalam rangka kebutuhan masyarakat kita di seluruh Indonesia selama bulan puasa sampai nanti Idul Fitri 1441 H.

Ada 3 skenario yang Bapak Menteri Pertanian telah jelaskan kepada kita :

1. Skenario yang sangat optimis saat ini pemerintah telah menyiapkan 3,5 juta ton khusus beras dan sampai Februari ke bulan Mei; ketika kemudian berproduksi akan bertambah 12 juta ton sehingga semuanya berjumlah 15 juta ton beras untuk kebutuhan dari kurang lebih 267 juta penduduk Indonesia dan itu termasuk NTT. Stok beras yang ada 15 juta secara nasional 15 juta ton kalau kebutuhan bulan Februari sampai Mei itu 7,6 juta ton maka masih tersisa 8 juta ton lebih. Jadi stok pangan kita khusus beras untuk kebutuhan nasional melalui satu skenario optimisme kurang lebih kita siapkan 8 juta ton beras dan itu termasuk NTT. Itu skenario yang paling optimis;

2. Skenario yang moderat. Negara menyiapkan 3,5 juta ton dan kemudian kita menghitung apabila ada defisit produksi katakanlah 4 persen maka kurang lebih yang dihasilkan 11 juta ton lebih. Itu berarti kebutuhan kita naikan 7,9 juta ton maka kita masih memiliki 7 juta ton pangan khusus beras. Jadi berarti kebutuhan dari 267 juta penduduk Indonesia masih terpenuhi karena masih ada stok kurang lebih 7 juta ton;

3. Skenario yang paling pesimis. Stok yang ada 3,5 juta, lalu kemudian produksi 11 juta lebih. Setelah kita hitung secara matematis bagaimana defisit produksi lalu kebutuhannya 8,3 juta ton untuk 267 juta penduduk Indonesia itu termasuk penduduk NTT masih tersisa kurang lebih 6 juta ton pangan khusus beras; dari kebutuhan untuk beras untuk 267 juta penduduk Indonesia termasuk NTT tetap aman.

“Jadi singkatnya untuk kebutuhan pangan beras secara nasional aman dan tentu juga termasuk NTT. Ada 11 komoditas yang sangat kita butuhkan saat ini yakni : beras, jagung, bawang putih, cabai, telur ayam, gula pasir, minyak goreng, ayam buras, bawang merah, gula pasir. Tentu pemerintah juga berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat,” jelas Marius.

Dia menambahkan, “Ada 3 komoditas yang memang perlu diusahakan lebih keras karena bergantung pada import seperti : bawang putih dan gula pasir. Karena memang stok dalam negeri kurang makanya kita harus mengimport termasuk juga daging sapi dan itu juga stok dalam negeri kurang.”

Nah persoalannya kata dia, ada sejumlah negara yang menjadi negara eksportir daging sapi ke berbagai negara termasuk di Indonesia terkena lockdown. “Sehingga nanti bisa jadi, daging sapi itu akan terlambat sampai di Indonesia termasuk NTT. Tentu untuk NTT kita tahu sebagai provinsi ternak yang juga memiliki kurang lebih 1 juta ekor sapi untuk kebutuhan masyarakat NTT bisa terpenuhi. Kita harapkan semua kebutuhan dasar masyarakat di seluruh Indonesia termasuk NTT tetap terkendali dan aman,” tandas Marius, datar.

Hingga malam ini data yang terkumpul dari 22 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se NTT menyebutkan jumlah OTG sebanyak 261 orang; OTG saat ini 230 orang dan OTG selesai dipanau 31 orang. Jumlah ODP, PDP dan Konfirmasi 1654 orang; ODP sebanyak 1600 orang; selesai pemantauan 997 orang; yang dirawat sebanyak 10 orang. Karantina mandiri 541 orang; karantina terpusat 51 orang; kondisi saat ini 602 orang. Jumlah PDP sebanyak 11 orang. Sampel yang dikirim sebanyak 75 sampel; 1 sampel sembuh; 51 hasil laboratorium negatif; dan belum ada hasil 23 sampel.

  • Penulis: Valeri Guru/Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT.

No comments