Valeri Guru

Memaknai ‘Kemesraan’ Humas dan Wartawan

537 Views
  • Oleh : Valeri Guru (Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)

Cukuplah saja berteman denganku

Jangan kau meminta lebih

Ku tak mungkin mencintaimu

Kita berteman saja

Teman tapi mesra

Anda semua tentu ingat dengan lirik lagu di atas. Lagu berjudul ‘Teman Tapi Mesra (TTM)’ itu dinyanyikan oleh grup Duo Ratu yang digawangi Maia Estianti. Lagu tersebut menceritakan tentang sebuah hubungan yang melebihi pertemanan, namun juga tidak bisa dikatakan sebagai pacaran atau biasa disebut sebagai hubungan yang nggantung, kata anak muda zaman sekarang.

Hubungan teman tapi mesra tidak hanya terjadi pada jalinan asmara para kawulamuda, tetapi juga antara Hubungan Masyarakat (Humas) dengan Media massa dalam hal ini Wartawan. Sebab, antara Humas dengan wartawan saling membutuhkan namun dengan tujuan masing-masing. Humas membutuhkan wartawan untuk mengkomunikasikan informasi kepada publik demi terwujudnya tujuan organisasi, dan wartawan membutuhkan Humas untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin untuk memenuhi kebutuhan informasi (di) publik. Hubungan teman tapi mesra yang terjadi pada Humas dan Wartawan biasa disebut sebagai media relations atau hubungan media. Dewasa ini, di era keterbukaan informasi publik, kegiatan media relations sering digunakan untuk menyampaikan pesan dari organisasi (baca: Pemerintah) kepada publiknya.

Muhammad Najih Farihanto, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dalam penelitiannya tentang “Studi Kasus Strategi Hubungan Media dan Humas”, mengatakan, media relations (hubungan media) adalah upaya mempublikasikan suatu pesan atau informasi yang maksimum untuk menciptakan pengetahuan dan pemahaman bagi khalayak. Bagi dia, tak seorang pun yang berhak mendikte apa yang harus diterbitkan oleh media massa. Karena tujuan utama dari hubungan media adalah menciptakan pengetahuan dan pemahaman.

Sementara menurut Irianta Yosal dalam bukunya “Media Relations: Konsep, Pendekatan dan Praktik” menulis, bekerjasama dengan media adalah tugas Public Relations (PR) atau Hubungan Masyarakat (Humas). Praktisi PR harus membangun dan menjaga hubungan yang saling menghormati dan saling mempercayai dengan awak media. Hubungan ini meskipun saling menguntungkan, pada intinya tetap berseberangan atau bertentangan, sebab jurnalis dan praktisi PR tidak dalam bisnis yang sama dan sering kali punya tujuan komunikasi yang berbeda.

Dari pernyataan ini, terdapat benang merah yang dapat ditarik yaitu hubungan humas dan media bertujuan untuk semakin mengeratkan hubungan antara organisasi dengan publiknya melalui perantara media massa. Dengan kata lain, lebih menekankan sebuah hubungan komunikasi yang dijalin antar publik dengan organisasi yang berkesinambungan agar organisasi (baca; pemerintah) dan publik saling mengerti tentang kondisi masing-masing.

Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT merupakan salah satu perangkat daerah di lingkup Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam akselerasi pembangunan yang digerakan melalui spirit “NTT Bangkit, NTT Sejahtera”, amat aktif melakukan berbagai macam kegiatan komunikasi untuk membangun image (citra positif), meningkatkan dan menjaga kepercayaan publik, sekaligus memenangkan  opini (di) publik. Salah satunya adalah hubungan media yang dilaksanakan oleh Bagian Pers di biro, sebagai penghubung dengan pihak luar dan membuat press release, foto dan video, juga rekaman suara untuk radio. Selain itu, menjalin hubungan kerja dengan berbagai media internal dan eksternal untuk membangun citra yang positif. Artinya, Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT berupaya untuk meningkatkan citra pemerintah di bawah kepemimpinan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wagub Josef A. Nae Soi. Sebab, tugas pokok Humas dan Protokol adalah mengelola dan mengumpulkan informasi yang berkaiatan dengan peningkatkan citra dan kinerja pemerintah.

Di sini terlihat jelas Humas dan Protokol bertugas menjalin hubungan yang berkesinambungan walau sebenarnya kedua belah pihak, baik Humas ataupun wartawan, memiliki kepentingan yang berbeda. Karena itu, untuk merekatkan hubungan dengan wartawan, ada beberapa strategi. Antara lain, penyebaran siaran pers, yang dibagikan kepada wartawan atau media massa yang dituju. Menjadi prestasi tersendiri bagi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di biro humas apabila siaran pers yang dikirim-nya manjadi perhatian khalayak. Oleh sebab itu, press release harus menyajikan nilai berita yang bermutu dan bisa dipahami oleh jurnalis, beritanya harus jelas, sesuai dengan fakta serta mentaati kaidah penulisan jurnalistik yang baik. Sebab, salah satu kunci untuk publisitas ialah nilai yang terkandung dalam berita.

Bentuk kegiatan hubungan media lain adalah Jumpa Pers, yang biasanya dilakukan menjelang, menghadapi ataupun setelah terjadi peristiwa penting. Peran kehadiran opinion leader saat diekspos bahwa seluruh masalah telah selesai adalah agar mereka mengetahui perkembangan terakhir langsung dari top manajemen. Sekaligus memberikan derajat confidence atau rasa percaya diri yang sangat tinggi sehingga ketika mereka harus meneruskan dan menyebarluaskan informasi terakhir tersebut, mereka dapat bekerja dengan maksimal untuk hasil yang optimal.

Hubungan dengan media yang lain adalah kunjungan pers, adalah kegiatan mengajak wartawan untuk berkunjung ke suatu lokasi, baik berada di lingkungan, maupun ke tempat lokasi yang memiliki kaitan erat dengan kiprah lembaga atau instansi terkait. Press tour pada umumnya merupakan kegiatan yang direncanakan oleh organisasi untuk meningkatkan hubungan baik dengan wartawan.

Humas pemerintah di level manapun harus mampu bersinergi atau bermitra dengan wartawan (media cetak, media elektronik dan media online, termasuk medsos), dalam membantu pemerintah untuk menyebarluaskan informasi dan berbagai program pembangunan, pemerintahan dan pelayanan kemasyarakatan kepada masyarakat agar masyarakat atau publik dapat mengetahuinya. Prinsipnya, sinergitas atau hubungan kemitraan antara humas dan wartawan dapat berjalan dengan baik sehingga tujuan dapat diwujudkan secara optimal. Untuk itu, ada beberapa hal yang sangat penting dilaksanakan oleh setiap ASN yang ada di biro humas, diantaranya :  hubungan humas dengan wartawan bersifat professional; humas harus mengetahui seluk beluk wartawan, termasuk irama kerjanya; dan  humas harus memiliki kemampuan praktik jurnalisme seperti meliput, wawancara, memotret, menulis berita langsung, berita khas (feature news) dan artikel.

Suatu hubungan personal yang kokoh dan positif hanya akan tercipta serta terpelihara apabila dilandasi oleh sikap saling terbuka atau adanya keterbukaan, kejujuran, kerja sama, dan sikap saling menghormati profesi masing-masing. Ketika sebuah hubungan personal terbangun dengan baik, maka masalah-masalah non teknis biasanya semakin mudah untuk diselesaikan. Misalnya ada salah paham, miss komunikasi, dan sebagainya. Binalah hubungan baik selalu dengan para jurnalis, editor, pemilik media bahkan dengan para distributor sekalipun. Dukungan mereka akan sangat membantu pekerjaan humas untuk semakin solid agar jalannya perubahan menuju NTT Bangkit dan NTT Sejahtera, bisa terwujud secara bermartabat.

Inilah yang dimaksud dengan term “teman tapi mesra” antara humas dan wartawan. Dalam spirit Hari Kebangkitan Nasional tahun 2020, semua kita berharap agar kemitraan antara Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT di bawah kepemimpinan Dr. Jelamu Ardfu Marius, M.Si bersama wartawan khususnya di Kantor Gubernur, akan terus ditingkatkan untuk membangun citra positif pemerintah. Artinya, dengan sinergitas yang kuat dengan wartawan, humas bisa memenangkan opini (di) publik NTT. Semakin baik hubungan media yang dilakukan, semakin baik pula citra pemerintah. Begitu juga sebaliknya. Banyak organisasi yang ditimpa kemelut justru karena menutup diri dari pers yang mengakibatkan citra buruk itu selamanya tertanam kuat di benak masyarakat.  Ini tidak boleh terjadi ! (*)

No comments